Selama tanggal 16 sampai 20 Desember
2012, jari-jari tangan saya disibukkan oleh persoalan burung siang
harinya. Burung yang terbang dengan murung. Burung yang terbang dengan
riang. Burung yang terbang dengan air mata yang menetas. Saya
menuliskannya bukan tanpa sadar. Saya menuliskannya dengan sadar.
Persoalannya mengapa saya menuliskannya di FB, pertanyaan inilah yang
mungkin tidak terjawab oleh saya.
Seorang adek berkomentar, status abang
lain saja dari yang lain. Saya hanya bilang syukurlah kalau begitu.
Sementara orang suka curhat dan membuat hal-hal tidak menentu di fb,
tambahnya. Tidak sekali ini saya mendapatkan pujian dari seorang teman,
karib, atau sahabat yang mengomentari status saya. Saya tidak bermaksud
untuk meninggikan diri saya, saya hanya ingin berbagai kepada siapa yang
berkenan mengutip atau membaca tulisan ini
Potongan-potongan tulisan itu kembali saya tuliskan di sini dalam bentuk sususan acak, di mana di mulai dari postingan terakhir
Kenapa engkau ikut pula menangis
wahai suara batin. Sebab engkau menangis. Kau itu kadang-kadang lugu dan lucu.
Berhentilah kau menangis. Burung menggerakkan sayapnya. Sayap dalam bating
melunakkan suara. Kalau begitu mari kita sama-sama terbang kepada ketinggian.
Biarkan tubuh kita melayang walau nanti mesti balik lagi ke ranting tempat kita
bermula terbang. Terbanglah mereka melewati pagi yang dingin, angin yang kering
Duhai burung yang malang, yang
merenungkan mengapa ia terbang tinggi, mengapa ia hinggap di dahan, wahai
burung yang malang yang merenungkan mengapa ia berkicau dan kembali terdiam.
Dan air mata burung itu berderai, menetes, membasahi sepi yang begitu sunyi.
Maka berkicaulah dia sekeras-kerasnya.
Seekor burung memilih terbang,
terbang tinggi ia meninggalkan kebingungan, menuju dirinya.
Ah, entah si burung yang kini
malang itu, merenung, hendak terbang ia urung, hendak berdiri ia terpaku
sendiri, barangkali setelah hari ini apakah lagi yang menarik dan membuat sepi
selain mengkaji pulang ke asal. Makan diamlah burung itu sediam batu.
Di tempat lain di tempat
tersunyi, seekor burung tertunduk menghitung-hitung ranting dan daun yang dia
kumpulkan, menghitung-hitung dirinya dan masa lalu. Kemudian dia kembali
memicingkan mata, tidur-tidur ayam.
Wahai suara batinku, ujar burung
memecah kesunyian. Boleh aku jatuh cinta. Maksudku setidaknya menghembuskan
angin cinta. Kenapa engkau ingin pula memiliki kasmaran dalam hatiku. Tidak,
tidak kenapa-napa. Bolehkah? Suara batin itu diam. Kemudian tersenyum.
"Apa
yang kau sesalkan wahai burung." Aku hanya sedang mensyukuri cinta,
jawabnya. Lalu kenapa engkau menangis, jawab suara dari dalam batinnya. Sebab
Tuhan telah mengumumkan aku. Suara dari dalam batinnya menangis. Menangislah
bertalu-talu antara suara batin dan suara burung yang telah parau.
Apa yang begitu menarik dengan tulisan
saya ini sehingga saya menuliskannya kembali? Pertanyaan ini saya
lontarkan kepada diri saya sendiri sebagai pemilik dari kata-kata ini.
Pertanyaan ini saya ingin juga lontarkan kepada kawan-kawan yang membaca
tulisan ini.
Apa yang menarik,
ya, apa yang menarik dari sebuah tulisan ini? Saya kembali mengulang
bacaan saya sebelumnya dalam perjalanan hidup Karni Ilyas. Kalau anda hendak membaca suatu buku, dan buku itu belum dituliskan orang, maka andalah yang akan menuliskannya.
Burung itu
mungkin hari telah terbang dari kepala saya. Atau masih dalam kepala
saya. Sedang tertidur, ngantuk-ngantuk ayam. Bisa juga burung itu sedang
terbang tinggi atau membuat suami atau bini baru dalam kepala saya.
Semuanya bergantung kepada kepala saya memainkan perang. Kalau kepala
saya menginginkan burung itu terbang rendah dengan jemarinya menyentuh
daun-daun basah, maka burung itu sedang seperti itu pekerjaannya dalam
kepala saya.
Ya, ini adalah
persoalan ide. Saya merasa sudah berdosa kepada diri saya sendiri,
karena ide saya buang-buang di FB. Burung-burung yang saya terbangkan di
facebook, adalah ide dasar tulisan saya. Barangkali itulah kenapa saya
menuliskannya di dinding facebook. Sebab kepala saya meminta untuk
menuliskannya.
Inilah yang hendak
saya bagikan kepada kawan-kawan. Bagaimana ide berlahiran dalam kepala.
Dan bagaimana ide dituliskan dalam bentuk tulisan yang lebih panjang.
Dalam bentuk tulisan yang lebih menggigit. Sebab ide dia adalah kerbau
liar yang dijinakkan. Barangkali inilah yang harus dilakukan oleh para
pengarang pemula. Menjinakkan kerbau liar dalam kepala masing-masing.
Kerbau liar harus
dijinakkan setiap hari. Harus dibiarkan dia berenang di kubangan baru
ditarik kembali ke daratan setelah hari sedikit gelap. Ide dalam kepala
pengarang juga harus dijinakkan. Caranya bagaimana menjinakkan ide dalam
kepala? Caranya seperti menjinakkan kerbau liar setiap hari. Ide itu
setiap hari dijinakkan, diolah, dikasih sayangi.
Omong kosong kalau
calon penulis ingin jadi penulis terkenal, penulis hebat, tetapi tidak
mau menulis atau mengasah kemampuannya menulis setiap hari. Barangkali
hanya akan tinggal di angan-angan. Penulis yang mengatakan dirinya
ingin menjadi penulis terkenal, pasti ketika jalan ke sana itu ia
terangi dengan pena, buku, bacaan koran, alam.
Saya mengingat
kembali ketika memasuki hutan-hutan lebat di masa-masa kecil saya. Bapak
dan ibu suka membawa ke ladang. Memasuki kayu-kayu besar. Hutan-hutan
rapat. Bapak mengolah ladang di Garogok dan Parak Dalam dengan parang,
cangkul, cengkok. Bapak merambah semak-semak liar dengan parang, hingga
semak-semak itu bersih. Bapak dan ibu mencangkul tanah-tanah kering,
tanah berakar ilalang, tanah-tanah berpakis menjadi lahan gambut.
Barulah setelah
lahan itu bersih, tanah itu dapat ditanami kentang, tomat, cabe, bawang,
markisah. Bapak menikmati hasil ladang. Menulis adalah serupa Bapak dan
Ibu saya mengolah ladang. Pada akhirnya sekolah menulis dikembali
kepada pribadi-pribadi yang ikut di dalamnya. Apakah akan memilih
menjadi penulis terkenal dalam angan-angan atau memilih mewujudkannya
dengan terus merambah, menyiangi, mengolah, menanam benih
itu.*rumahkayu, 2012




25%