(Pertemuan V)
Para peserta Sekmen FLP Sumbar itu
berkodak di depan kamera ponsel. Papa berdiri di paling tengah dengan
topi hitam dan stelan baju dan celana hitamnya.
Begitulah suasana ending dari materi
yang diberikan oleh Papa Rusli. Kami menamakannya bincang-bincang,
berbagi cerita, tentang proses kreatif mengarang. Baik mengarang puisi,
cerpen, novel.
"Pada awalnya dimulai dari kata," ujar
Papa. Kita harus mengenali yang namanya kata. Sebab mengarang adalah
merangkai kata-kata. Maka kenali kata, ujar papa kepada anggota Sekmen
Minggu, (23/12).
Pertanyaan-pertanyaan bermunculan dari
penulis. Diantara pertanyaan itu, bagaimana menulis puisi. Papa tidak
langsung memberikan jawaban. Jawaban Papa melalui analogi.
Kalau memakai sebuah ponsel maka kita
membutuhkan bateri. Supaya ponsel dapat hidup dengan baik makai harus di
carger biar baterai memiliki daya untuk beraktifitas. Kalau baterai
sudah penuh maka pakailah ponsel lagi. Kalau diisi juga dia ada
kemunkinan akan suak.
Pengarang baterainya adalah otak. Dan
otak itu harus diisi daya agar bisa jalan. Kalau daya sudah penuh dia
akan meminta untuk dikeluarkan atau dipindahkan. "Pengarang harus banyak
membaca," jawab Papa. Pengarang itu harus mengisi kepalanya dengan
banyak bacaan, buku, koran, lingkungan di sekitarnya. Ditulis lingkungan
sekitar.
Bagi penulis pemula sebagai proses
mengasah diri sendiri, dapat menulis puisi sepuluh dalam satu hari.
Setidak-tidaknya lima puisi. Pertanyaan menulis puisi ini dilontarkan oleh Hasneli. Para peserta yang hadir memang setiak kali pertemuan di wajibkan membawa karya. Tujuan dari membawa menurut panitia pelaksana adalah untuk melatih peserta sekolah menulis. Sehingga penulis membiasakan untuk terus berkarya. Ada atau tidak ada pendamping menulis tetap lanjut.
Diskusi Bersama Papa berlangsung sampai jam sebelas. Kemudian dilanjutkan dengan bedah karya dari masing-masing penulis. Baik puisi, cerpen, penggalan novel. Diantara novel yang sudah selesai itu dan dalam tahapan editan adalah novelnya Riza Alen, penulis yang berkegiatan di LSM.
Kegiatan Sekmen ini cukup mengundang selera diskusi anggota Sekmen. Diskusi yang ditargetkan selesai pukul 2 siang, ternyata baru bisa diakhiri pukul setengah empat. Kegiatan ditutup. Sekre kembali menanti dalam kesunyian untuk minggi berikutnya.**




25%