Gigi Udin
Cerpen
Dini Widya Herlinda
Gue
Udin. Bentar lagi lulus jadi dokter
gigi. Itulah mimpi terbesar gue sekarang. Doain gue, ya?! Gue maksa.
Tahu
gak ya, gue tuh udah minta doa dari Emak gue, Babe gue, Engkong gue, Encang,
Encing, Encung gue. Tapi tetap aja gue belum lulus-lulus jadi dokter gigi.
Terus, akhirnya gue dapat kabar kalau kita harus minta bantuan doa dari orang
soleh, biar doanya terkabul. Nah, udah gue lakuin itu. Gue minta doa dari Ustad
Mahmud, ustad yang sering ceramah di masjid komplek gue. Tapi, tetap aja gue
belum lulus-lulus. Onde mande tusde!
Hampir
tujuh tahun gue terjebak di dunia pergigian. Dari mulai nanganin gigi gingsul,
gigi nongol, ngawatin gigi, ngebor gigi, nambal gigi, hingga masangin gigi
palsu Engkong gue sendiri.
“Lama bener sih lu, Din, lulusnya?!” ucap Engkong gue
suatu kali pas lagi lebaran Idul Adha kemarin.... (Sambungannya dalam antologi "Tulisan".......)
Saya terpikat
dengan puisi-puisi Hasneni Suryani, "Tulisan", "Anak
Manis". Betapa kata-kata ini sederhana dalam kepala saya. Saya terpikat
dengan puisi-puisi Windi Pebri Candra, puisi-puisi sufistik, Permohonanku
kali ini tolong kirimkan alamat lengkapmu/ dalam puisi berjudul
"Di Ujung Senja". Cerpen Desi Soneta juga menarik bagi saya,
"Gadis Lorong", pembahasan tentang ibu al-Quran. Cerpen-cerpen dan
puisi-puisi dari mereka yang terhimpun di sini, cukup memberikan warna. Mereka
telah mengabadikan diri mereka dalam tulisan ini, orang-orang kecil yang hidup
dalam tulisan-tulisannya yang memberikan sumbangan besar bagi zaman ini.[Alizar Tanjung]





25%