Oleh Alizar Tanjung
Suatu
malam di kontrakan saya, Villa Rumahkayu, kami menamakannya villa,
selepas Isya, saya terpikir untuk menuliskan isi kepala saya, "Mengapa
Harus Mencoretkan Kata", sebenarnya saya sebelumnya menuliskan "Mengapa
Harus Menulis?", saya kembali mendeletenya. Saya delete "Mengapa Harus
Menulis" dan saya ganti dengan "Mengapa Harus Mencoretkan Kata", kalimat
tanya yang tidak saya beri tanda tanya. Pertanyaan dalam kepala saya
hanya sederhana, mengapa tulisan saya harus sama dengan judul tulisan
orang-orang, saya tidak boleh sama dengan mereka, saya harus berbeda dan
saya harus berada di depan, sebab itu saya beri tulisan saya dengan
judul "Mengapapa Harus Mencoretkan Kata", karena saya ingin menjadi
sesuatu yang berbeda.
Logikanya sederhana saja, seorang kawan ketika pertemuan di rumah puisi Taufik Ismail di Padangpanjang bercerita dengan saya, kalau kita berjalan ada sepuluh orang dan semua jalan sama-sama serentak maka, tidak ada yang menonjol, "saya ingin menonjol, sebab itu melangkah selangkah di depan dari yang lain maka akan menjadi pusat perhatian," ujar dia kepada saya. Saya tahu dia hanya memberi nasihat kepada dirinya sendiri, dan saya tahu dia sebenarnya juga memberi nasihat buat saya, walau dia berkata untuk dirinya sendiri.
Apa saya harus melangkah sama dengan yang lain, sehingga tidak menonjol dalam segala sesuatu, atau saya ingin menonjol dari yang lain dengan maju selangkah di depan. Persoalan ini sederhana untuk diingat-ingat, dan luarbiasa untuk dilaksanakan. Siapa yang menjalankan nasihat ini, dialah yang beruntung, dialah yang melangkah selangkah lebih maju. Ini bukan persoalan kata-kata, ini persoalan siapa yang lebih dahulu melaksanakan, sebab itu juga saya menuliskan "Mengapa Harus Mencoretkan Kata".
Logikanya sederhana saja, seorang kawan ketika pertemuan di rumah puisi Taufik Ismail di Padangpanjang bercerita dengan saya, kalau kita berjalan ada sepuluh orang dan semua jalan sama-sama serentak maka, tidak ada yang menonjol, "saya ingin menonjol, sebab itu melangkah selangkah di depan dari yang lain maka akan menjadi pusat perhatian," ujar dia kepada saya. Saya tahu dia hanya memberi nasihat kepada dirinya sendiri, dan saya tahu dia sebenarnya juga memberi nasihat buat saya, walau dia berkata untuk dirinya sendiri.
Apa saya harus melangkah sama dengan yang lain, sehingga tidak menonjol dalam segala sesuatu, atau saya ingin menonjol dari yang lain dengan maju selangkah di depan. Persoalan ini sederhana untuk diingat-ingat, dan luarbiasa untuk dilaksanakan. Siapa yang menjalankan nasihat ini, dialah yang beruntung, dialah yang melangkah selangkah lebih maju. Ini bukan persoalan kata-kata, ini persoalan siapa yang lebih dahulu melaksanakan, sebab itu juga saya menuliskan "Mengapa Harus Mencoretkan Kata".
Apa
yang dipikirkan oleh penulis kalau dia bertanya kepada dirinya, mengapa
saya harus menulis. Mengapa harus memutuskan menulis dengan
menghamburkan kata-kata dalam bentuk artikel, opini, esai, sajak,
cerpen, novel, buku pop, mengapa harus menulis yang menjadi pilihan
hidup saya? Saya ingin mengajak saya dan pembaca saya tentang mengapa
harus mencoretkan kata-kata, mengapa kata-kata yang harus dicoretkan.
Saya
termasuk penyuka film, bahkan orang yang sangat doyan dengan film,
terutama film-film kekaisaran Roma serupa "Arthur", film Cina yang
dibintangi oleh Jetli, Jackie Can, Andi Lau, Bruce Lee, drama korea
serupa Winter Sonata. Apa yang menarik dari film-film ini? Sadar atau
tidak sadar film-fim ini memasukkan unsur Tuhan dalam film-film tenar
ini, ada yang menyembah trinitas, ada yang berkepercayaan dengan Buddha,
ada pula dengan kepercayaan Hindu. Pertanyaan besarnya mengapa mereka
memasukkan unsur agama, padahal kepercayaan mereka ada yang dibuat oleh
manusia, agama bikinan manusia? Hal ini jawaban karena kebutuhan
spritual, kebutuhan bertuhan. Manusia butuh Tuhan, dia mencari dengan
segala bentuk buat dekat dengan Tuhan, meski ada yang mengingkarinya,
hati kecilnya tidak akan mengingkari.
Menulis adalah menuliskan kata-kata, itu ada benarnya. Menulis adalah sekedar menorehkan isi kepala itu juga ada benarnya. Menulis menorehkan pengalaman itu juga ada benarnya. Menulis adalah kesenangan itu juga betul. Menulis adalah menulis makalah, skripsi, presentasi ilmiah, thesis, disertasi, itu juga betul. Kalau begitu untuk apa menulis?
Seorang dosen menulis untuk bahan presentasi kuliahnya, jurnal ilmiah, buku, penelitian. Seorang mahasiswa menulis untuk penampilan makalah, buat menyusun skripsi. Seorang organisatoris menulis LPJ, buat surat-menyuratnya. Seorang pebisnis menulis buat publikasi bisnisnya. Seorang politikus menulis buat kepolitikusannya. Seorang penulis menulis buat profesinya. Penulis novel akan menulis novel, penulis skenario film akan menulis skenario film, seorang cerpenis akan menulis cerpen, seorang penyair akan menulis syairnya, seorang pencipta lagi akan menulis lagunya. Itulah sebabnya mengapa menulis, menulis dapat disesuaikan dengan bidang masing-masing.
Saya membaca dan mendengar ciptaan-ciptaan lagu Iwan Fals, Slanks, Letto, Rhoma Irama, saya mendapatkan lirik lagu yang bernas. Kenapa mereka menghasilkan lirik lagu yang bernas, karena mereka senantiasa berlatih menuliskan lirik lagunya, karena senantiasa mengisi kepala mereka dengan membaca banak hal. Saya membaca tentang Hasan al-Banna, Ibnu Jauziah, Syaikh Qutb, kenapa saya bisa membaca tentang mereka, karena tulisan-tulisan mereka dan tentang yang beredar di dunia, padahal mereka telah mati. Seandainya mereka tidak menuliskan pemikiran mereka, dan tidak ada pula yang mau menuliskannya, apakah akan dikenang perjuangan Hasal al-Banna. I dont know.
Benar kata pepatah, menulis itu mengabadikan nama pengarangnya. Mereka memang telah meninggal, mungkin tulang-belulang mereka juga telah tidak ada lagi, tetapi hasil pemikiran mereka akan tetap hidup dan dikenang sepanjang masa. Mereka hidup di mata air yang terus mengalir. Ini salah satu jawaban mengapa harus menulis?
Menulis adalah menuliskan kata-kata, itu ada benarnya. Menulis adalah sekedar menorehkan isi kepala itu juga ada benarnya. Menulis menorehkan pengalaman itu juga ada benarnya. Menulis adalah kesenangan itu juga betul. Menulis adalah menulis makalah, skripsi, presentasi ilmiah, thesis, disertasi, itu juga betul. Kalau begitu untuk apa menulis?
Seorang dosen menulis untuk bahan presentasi kuliahnya, jurnal ilmiah, buku, penelitian. Seorang mahasiswa menulis untuk penampilan makalah, buat menyusun skripsi. Seorang organisatoris menulis LPJ, buat surat-menyuratnya. Seorang pebisnis menulis buat publikasi bisnisnya. Seorang politikus menulis buat kepolitikusannya. Seorang penulis menulis buat profesinya. Penulis novel akan menulis novel, penulis skenario film akan menulis skenario film, seorang cerpenis akan menulis cerpen, seorang penyair akan menulis syairnya, seorang pencipta lagi akan menulis lagunya. Itulah sebabnya mengapa menulis, menulis dapat disesuaikan dengan bidang masing-masing.
Saya membaca dan mendengar ciptaan-ciptaan lagu Iwan Fals, Slanks, Letto, Rhoma Irama, saya mendapatkan lirik lagu yang bernas. Kenapa mereka menghasilkan lirik lagu yang bernas, karena mereka senantiasa berlatih menuliskan lirik lagunya, karena senantiasa mengisi kepala mereka dengan membaca banak hal. Saya membaca tentang Hasan al-Banna, Ibnu Jauziah, Syaikh Qutb, kenapa saya bisa membaca tentang mereka, karena tulisan-tulisan mereka dan tentang yang beredar di dunia, padahal mereka telah mati. Seandainya mereka tidak menuliskan pemikiran mereka, dan tidak ada pula yang mau menuliskannya, apakah akan dikenang perjuangan Hasal al-Banna. I dont know.
Benar kata pepatah, menulis itu mengabadikan nama pengarangnya. Mereka memang telah meninggal, mungkin tulang-belulang mereka juga telah tidak ada lagi, tetapi hasil pemikiran mereka akan tetap hidup dan dikenang sepanjang masa. Mereka hidup di mata air yang terus mengalir. Ini salah satu jawaban mengapa harus menulis?
Kalau
digali lebih dalam ibarat mengalir air sumur, semakin dalam maka akan
semakin bersih air yang didapatkan, bahkan dapat diminum langsung,
begitu juga rahasia emas dari menulis, kalau digali lebih dalam maka
akan semakin terbuka wawasan mengapa harus menulis.
Saya
suka berjalan-jalan ke Gramedia di Padang, kadang hanya melepaskan
hasrat mata saja dengan buku-buku terbitan terbaru, saya membaca banyak
judul buku. Suatu saat saya cuplikan buku di cover bagian belakang, saya
baca cover depannya, cerita ini ditulis oleh seorang anak perempuan
tentang kisah hidupnya. Perempuan remaja itu menuliskan kisah hidupnya
ketika dia belum meninggal, menuliskan perjalanan demi perjalanan, hari
demi hari dia menjalani kanker yang pada akhirnya merenggut dia. Dia
meninggal dengan kepala yang tidak lagi berambut.
Apa
yang menarik dari kisah ini? Saya menjawab sendiri, kisah ini telah
menjadi inspiratif bagi ribuan orang di Indonesia. Kenapa bisa menjadi
inspiratif? Karena dia telah mewariskannya dalam bentuk tulisan. Sedikit
orang yang mau membagikan kisah hidupnya dengan orang lain. Dan dia
sedikit dari yang mewariskan itu. Itulah setetes dari air mata mata air
yang mengalir, air mata yang tidak akan kering memberikan kebahagian.
Saya yakin banyak yang harus dituliskan. Sangat yakin.[]



25%