Oleh Alizar
Tanjung
Bagaimana
mungkin anda tid
ak mengambil keputusan terbaik terhadap hidup ayam anda, sementara anda melihat di atas sana elang sedang mengintainya (Alizar Tanjung)
ak mengambil keputusan terbaik terhadap hidup ayam anda, sementara anda melihat di atas sana elang sedang mengintainya (Alizar Tanjung)
Di waktu kecil, di
Dusun Karangsadah, di antara rindang batang kulit manis, dan terik matahari, di
kaki bukit di antara bukit yang mengapit Gunung Talang, saya suka memperhatikan
elang berkulik di atas langit yang bersih. Dia berputar-putar sambil terus
berkulik. Putarannya mirip sekali putaran pesawat terbang.
Putarannya mengagumkan
dan kuliknya juga mengagumkan. Tetapi jangan disangka elang terbang yang
mengagumkan itu sedang memperlihatkan akrobatnya kepada saya, elang itu sedang
mengintai mangsa. Mangsanya ayam kami, kadang ular semak.
Tentunya yang lebih
menarik adalah ayam-ayam orang kampugg kami yang dipaut di halaman. Elang
sedang mengintainya. Sekali elang mencakar, makanan sudah di hadapannya. Kami
suka berlari ke halaman, memperhatikan elang yang berputar-putar itu mirip Sukhoi.
Elang terbang akan
mengepakkan sayapnya beberapa kali, kemudian membiarkan tubuhnya melayang serupa
layang-layang kertas. Benar-benar melayang, serupa tidak bergerak
sayap-sayapanya. Tetapi kalau cakarnya sudah mencengkram, jangan harap mangsa
akan luput dari cakarnya. Kecepatan terbangnya 115 KM/jam. Sungguh kecepatan
yang mengagumkan.
Bagi pemilik ayam apakah
dia biarkan elang itu menangkapnya dan mengatakan itu sudah takdir atau
mengabil langkah tegas. Dia masukkan ayam dalam kandang atau memilih tudung
ayam yang dari bambu sebagai pelindung. Hidup adalah pilihan, yang berani memutuskan
pilihanlah yang menjadi pemenangnya.
Elang terbang
tidaklah semudah yang dilihat di atas langit sana. Sebelum dia benar-benar
tampak menawan di atas sana, menjadi raja burung bagi sebangsanya, elang
benar-benar harus membuat keputusan. Keputusan itu memilih menjadi burung yang
bodoh atau menjadi burung yang cerdik. Memutuskan untuk menjadi pejuang atau
memilih menjadi elang kalah setelah ditinggalkan induknya. Pada akhirnya elang
memutuskan untuk menjadi pemenang.
Laut sekitar
Selandia Baru tempat yang baik bagi elang laut. Lima belas spesies dari 20
spesies elang laut atau albatross ini berkembang sepanjang pantai Selandia
Baru. Satu-satunya tempat mereka berkembang biak di daratan utama Belahan Bumi
Selatan adalah Taiaroa Head, di ujung Semenanjung Ortago, Pulau Selatan
Selandia Baru.
Elang Laut Royal
Utara menjadikan Selandia Baru sebagai tempat perkembangan-biakan sepanjang
hidupnya. Perkembang-biakan dapat berlangsung sepanjang hidupnya. Kehidupannya
menarik, dia menghabiskan hidup satu tahun di laut, sekali dua tahun bertelur
satu butir. Yang tatkala menariknya, elang laut jenis pasangan yang setia.
Burung ini hanya mempunyai satu pasangan seumur hidup.
Butuh waktu 2 bulan
20 hari bagi elang laut untuk mengerami telurnya yang beratnya dapat mencapai
500 gram. Setelah telur menetas baik elang jantan maupun betina menyuapi
anaknya secara bergantian. Cara elang laut menyuapi anaknya cukup menarik.
Elang laut yang telah kembali dari laut mencairkan ikan dalam mulutnya,
kemudian menyodorkan mulutnya kepada anak-anaknya. Anak-anak mengambil makanan
dari ibunya.
Menariknya tubuh
anak beratnya dapat melebihi tubuh sang induk. Setelah anak memiliki asupan
gizi, pada usia setahun sang induk maupun pejantan akan kembali ke laut.
Sedangkan sang anak akan tinggal di sarang sambil belajar terbang.
Sang anak belajar
terbang tanpa bantuan induk, mempertaruhkan hidup dan matinya dari atas tebing.
Tebing-tebing menjadi ujian paling mematikan bagi anak elang laut. belajar
tanpa induk dan pejantan, ujian berat bagi elang laut. Elang laut yang tangguh
akan menjadi pengarung lautan lepas yang tangguh. Menangkap ikan-ikan di
perairan Pantai Selandia Baru. Menikmati indahnya sambil terbang Pantai Taiaroa
Head.
Betapa mengagumkan
bagi elang laut, dia memutuskan untuk terbang. Memutuskankan untuk menjadi
pengarung laut yang tangguh. Padahal kalau dia tidak hati-hati dia dapat jatuh
ke jurang, mati tertancap batu tebing. Lihatlah tebing-tebing yang curam tempat
elang beranak-pinak. Melihat tebing itu saja sudah cukup menakutkan. Tebang yang
curam lebih mirip kaca yang diberdirikan. Elang yang sedang belajar terbang,
terbang di antara tebing. Meski dia bisa saja mati kapan pun bila dia keliru
dalam menggerakkan sayap, pilihan telah menjadi hidupnya. Dia tidak takut salah
dan tidak mamu tunduk dengan kegagalan. Tunduk pada kegagalan berarti siap mati
sia-sia bersama kegagalan itu.
Elang itu terbang juga pada akhirnya, meski
gagal berulang-ulang, meski jatuh berulang-ulang. Dan dia menjadi pemenang, dia
memilih hidupnya untuk terbang di laut lepas, mencari ikan diperairan, menjadi
mesin terbang yang canggih. Menggunakan kemampuan terbangnya untuk terus
mengarungi lautan.
Menulis sebenarnya
adalah serupa proses terbangnya anak elang laut. Meski melewati proses terbang,
meski gagal berulang-ulang, meski ditolak media berulang-ulang, meski dicemooh.
Lebih baik dicemooh daripada tidak dicemooh sama sekali. Dicemooh tanda ada
sesuatu yang menarik perhatian pada diri kita yang tidak disenangi orang lain,
yang bearti kita telah memiliki keunggulan daripada orang yang dicemooh.
Menulis butuh
asupan gizi yang banyak. Burung elang telah memenuhi kecerdasan anaknya dengan
gizi dari ikan laut. Elang tahu anaknya butuh gizi, sebab itu dia memenuhi
perut anaknya dengan gizi, biar tulang anaknya kuat, biar sayapnya tumbuh
dengan baik, biar paruh dapat terbentuk dengan kekuatan yang menakjubkan, biar
cakar-cakarnya dapat berfungsi dengan benar. Elang merupakan burung yang
memiliki umurnya yang panjang, dia dapat berumur lebih dari 70 tahun, menyamai umur
manusia. Cukup mengesankan. Bagaimana elang bisa bertahan hidup selama itu? Hanya
elang yang benar-benar telah mengambil keputusan yang cerdas mampu bertahan
selama itu.
Kembali kepada persoalan
gizi menulis. Gizi akan didapatkan dari protein yang tinggi. Protein dari
menulis adalah membaca, menjadi para ahli ilmu, membaca berbagai bidang ilmu
pengetahuan, dan spesifik pada bidang tertentu. Membaca koran, buku, gejala
alam, gejala sosial, perjalanan.
Seorang yang
menulis catatan perjalanan, tentunya dia akan membanca banyak hal yang menarik
yang berhubungan dengan tempat-tempat yang dia kunjungi. Apakah itu kesukaan
daerah, wisata yang menarik dengan daerah, cerita yang berhubungan daerah.
Seorang penulis cerpen juga seperti itu. Asupan gizi cerpen banyak membaca
cerpen dan banyak melakukan penelitian terhadap bahan-bahan yang dibutuhkan
oleh cerpen.
Saya sangat
tertarik dengan kebiasaan burung laut yang belajar terbang. Buat belajar
terbang harus memulai dari belajar terbang, tidak dari belajar bagaimana teori
terbang. Penulis juga demikian, penulis yang baik itu adalah penulis yang
memulai menulis. Dari menulis itulah tahu bahwa terbang itu seimbangnya begini,
gerakan sayapnya harusnya segini, pandangannya harus begini.[]




25%