Cerpen Alizar Tanjung (Koran Tempo, 3 Juli 2011)
“KITA akan menjadi akar, Sayang.
Kemudian berurat ke dalam tanah. Terus menuju inti bumi. Menjadi akar
tunggang yang tidak terduga-duga.”
Kemudian kamu berdiri memeluk tubuhku dari belakang. Jilbabmu mengenai pundakku.
“Kita akan diselimuti akar serabut. Akar itu makin lama
makin menyebar dan membesar dan kita benar-benar telah menopang batang
yang kokoh. Kemudian kita terkurung dalam tanah. Lambat laun menjadi
tanah.”
Tubuh kita menggigil terkena angin malam. Diam-diam kita
telah menjadi sepasang makhluk yang mesra. Cahaya bulan cemburu.
Pohon-pohon yang seperti hantu di lereng tebing Gunung Talang membuat
segala sesuatu begitu dekat, begitu akrab.
“Sekarang kita masih manusia. Kita memiliki sepasang
kaki, sepasang tangan, sepasang mata, sepasang telinga, satu mulut, satu
hidung, dan satu kepala. Lengkapnya tubuh yang sempurna. Lengkap dari
apa yang Abang bayangkan,” katamu. “Segala yang ada sempurna menjadi
milik kita. Kecuali, ya, kecuali hanya tubuh kita yang milik Tuhan.”
Tanganmu masih berdiam di lingkaran pinggangku.
“Kau tidak akan mengerti, Sayang. Hidup begitu sempurna. Hingga kita tenggelam dalam kesempurnaan.”
“Hsss,” katamu. Jemarimu yang menempel di dua bibirku.
Tangan itu telah lebih dahulu menjadi akar-akar kayu yang berserabut.
Lebih dari apa yang aku bayangkan. “Dengarkan! Ada sesuatu yang bicara
dengan kita. Sesuatu yang amat sempurna di balik daging kita.”
Kita kemudian terdiam. Lama.
“Tidak ada, Sayang.”
“Percayalah. Sesuatu yang membisik kepada kita!”
Kita diam.
“Tidak ada, Sayang. Itu hanya suara angin.”
“Suara daging.”
“Ya, suara daging, Sayang. Suara daging yang bercerita.”
“Coba Abang duduk?” katamu menarik dua tanganku sambil
memutar badanku. Lalu mendudukkan aku di kursi yang membelakangi jendela
yang terbuka. Kau duduk bersimpuh di depanku.
“Di mana kau mendapatkan jilbab secantik ini? Jilbab hitam yang sesuai dengan malam.”
“Tidak penting, Abang. Hal terpenting, aku tampil anggun di depan Abang.”
“Sudahlah kalau begitu.”
“Percayalah Abang kita masih sepasang manusia. Kita sepasang manusia yang melebihi kesempurnaan malaikat dan bidadari.”
“Aku tidak percaya, Sayang.”
“Kenapa?”
“Aku telah lama menjadi akar kayu.”
“Aku tidak percaya.”
“Aku telah menjelma jadi akar tunggang dan akar serabut. Aku telah menembus inti bumi. Telah aku temukan mata air.”
“Barangkali hanya mimpi. Saat ini Abang benar-benar menjadi manusia yang sempurna.”
“Kemudian aku menjelma jadi akar yang semakin lama
semakin keras dan dalam, semakin lama semakin bercabang. Abadilah aku
menjadi akar.”
“Abang sebaiknya duduk dengan tenang. Coba Abang rasakan
degup jantungku. Ada suara halus yang begitu sempurna dan tulus.” Kamu
merabakan tanganku ke dadamu.
“Aku masuk dalam serat-serat batu. Menembus dari tanah-tanah keras. Masuk lebih jauh menembus kegelapan.”
“Hsss.” Kamu merapatkan dua cinta bibirmu. Kita diam.
Aku merasakan kehangatan balutan jilbabmu. Kita sepasang akar kayu yang
makin lama makin menyatu. Kamu menyelinap ke dalam hatiku sebagai sayap
putih.
“Abang,” katamu memegang dua tanganku.
Dua tanganmu terasa sangat halus. Aku pernah memegang
pucuk daun kulitmanis. Ayah dahulu suka memintaku mengambil pucuk
kulitmanis yang bewarna merah hati ayam. Pucuk muda. Pucuk itu untuk
benda bermain adikku. Adikku akan sangat suka merobek-robeknya. Kemudian
ia akan memintaku, melalui ayah, untuk kembali mengambilkannya. Oh,
Sungguh lembut pucuk itu. Kelembutan kulitmu melebihi kelembutan pucuk
kulitmanis.
“Aku sungguh menikmati malam ini, Abang. Burung-burung
melintasi bulan. Sayapnya menari di antara bulat bulan. Kabut-kabut
menjelma melati dan anggrek putih dalam bulan.”
“Oh, Sayang, kau saksikanlah. Tanganku telah mulai
berakar. Akar itu tumbuh dari sela-sela jari. Akar-akar itu tumbuh
serabut dan berjuntai-juntai. Tidakkah kamu saksikan tanganku yang mulai
berbentuk kayu. Mengeluarkan aroma batang kulitmanis. Aroma itu
menyibak jilbabmu.”
“Tidak, Abang. Tangan Abang tetap kuning langsat.
Seperti kulit orang-orang kita. Tangan Abang memiliki kelenturan kabut
bulan. Percayalah Abang. Jemari Abang seperti jemari yang pernah
mengeluarkan air susu untuk nabi Ibrahim.”
“Perhatikanlah, Sayang. Kakiku mulai bertumbuh akar.
Tidakkah kau lihat akar-akar itu telah melilit betis dan pahaku.
Akar-akar itu menjalar dan melingkar serupa ular. Akar itu
bercabang-cabang dan terus membiak. Betapa akar-akar itu telah kayu. Ia
telah mulai menembus lantai dan mencari tanah. Akan terus semakin dalam
dan sebentar lagi memaku diriku di kursi ini, Sayang.”
“Abang, lihatlah kaki Abang tetap utuh berjuntai di
kursi ini. Kaki Abang akan tetap lentik, bagaikan kaki burung elang yang
bebas Abang bawa terbang tinggi kapan pun Abang mau. Rambut kaki Abang,
bulu kaki cendrawasih. Tentulah akan tetap menawan.”
“Tidakkah kau perhatikan, Sayang, kini seluruh tubuhku
adalah akar yang menjulai-julai? Rambutku adalah rambut-rambut akar
serabut. Dari mataku telah keluar dua akar yang sama-sama mencari tanah.
Mataku telah melekat pada akar. Tinggal mulutku yang tetap bicara
padamu, Sayang.”
“Abang, kau bermata hitam cantik. Bertitik putih mutiara di tengahnya.”
Kemudian kita berbicara bisik-bisik. Hanya hati kita
saja saling mendengar. Dan akar itu telah menjalar kepadamu. Aku
terkesiap melihat tubuhmu yang mulai berubah. Tangan-tanganmu menjelma
akar. Jemari-jemarimu jadi akar yang mencari tanah menembus lantai. Dua
kakimu menjadi akar tunggang yang menyatu. Dalam sekejap hidung, mata,
kepalamu telah pula menjadi akar. Apa kau tidak menyadari kesempurnaan
telah mencukupkan takdir kita?
“Ah, Sayang kita berdua telah sempurna menjadi akar. Tapi apa gunanya akar kayu tanpa ada batang.”
“Untuk apa gunanya batang, Abang? Batang hanya
melihatkan kepongahannya saja. Batang mengeliat-ngeliat kepada langit.
Kemudian menunjuk-nunjuk kepada angkasa, seolah akan ia menembus
cakrawala. Padahal ia hanya setinggi pucuk daun.”
“Batang bagian dari akar, Sayang. Batang yang melahirkan akar.”
“Bukankah tubuh kita yang telah melahirkan akar. Tanpa
akar tidak akan tegak batang. Batang hanya bagian dari simbol kecil
kehidupan atas. Kemudian batang akhirnya akan lapuk dan kembali kepada
tanah.”
“Tanpa batang tidak akan ada akar.”
“Batang telah cukup dengan tubuh kita, Abang.” Jilbabmu
meliup-liup di atas akar. Sebentar-sebentar dibalut dingin angin malam.
Kemudian kita berdiam untuk sesaat. Tubuh kita makin merapat. Kaki kita
menyatu menjadi akar tunggang yang semakin besar dan dalam.
“Sangat ibalah daun dan batang, Sayang. Batang akan
mati, daun akan gugur. Terpisah batang dan daun. Daun jatuh ke bumi
meninggalkan batang dan ranting. Batang dan ranting tidaklah kita
izinkan di akar kita.”
“Duhai Abang, batang dan daun adalah pecinta siang.
Sebab itu bergerak ke matahari. Kita adalah pecinta malam, sebab itu
kita bergerak ke dalam gelap bumi. Aduhai kasihanlah kita yang jadi
akar, Abang.”
“Beruntunglah kita, Sayang. Kita tetap lembab dan tumbuh menjalar dalam.”
“Tersiksalah kita menembus keras tanah dan batu.Tersiksalah kita karena lembab tanah dan dingin air.”
“Itu sudah takdir, Sayang.”
“Oh, betapa Abang yang penyabar sekarang. Mari kita
terus menjalar dan mengakar, Abang. Tunggu sebentar, Abang. Bagaimana
kiranya kalau kita dipisahkan batu atau para penggali lubang?”
“Maksudmu penggali batubara atau pembuat terowongan jalan kereta api bawah tanah?”
“Sejenisnya.”
“Oh, jangan kau baca itu, Sayang. Kau tahu….”
“Hsss.” Kamu merapatkan akar tanganmu ke akar bibirku.
“Bagaimana kalau itu terjadi. Oh, sempurnalah menjadi
akar yang tersiksa. Kita lari dari kemanusian karena tersiksa atas
kesempurnaan.”
“Itu hanya andai-andai, Abang. Kita akan semakin dalam ke dalam inti bumi. Tidak akan ada yang akan menggangu. Kecuali….”
“Kecuali apa, Sayang?”
“Kecuali, kecuali kita sempurna jadi akar. Kita akan bertemu panas bumi. Kita lumat jadi abu.”
“Oh, Sayang. Atas kesempurnaan akar pulakah kita akan menjadi abu?” (*)
.
.
Alizar Tanjung lahir di Dusun Karang Sadah, Solok, Sumatera Barat, 10 April 1987. Mahasiswa IAIN Imam Bonjol, Padang.




25%