Gadis
Kecil Yang Mencintai Pagi
Oleh
Desi Somalia
“Ruth… Ruth.
Kenapa tidak tidur, Sayang?”
Ini kali yang lain Ibu menemukan
Ruth tersungkur di tepi ranjang. Terengah-engah. Wajah Ruth tertutup beberapa
helai rambut.
Ibu mendekat. “Ada apa, Ruth?”
Ruth menggeleng dengan tubuh gemetaran.
Ibu
membantu Ruth naik kembali ke atas ranjang.
“Tidurlah, Ruth.”
“Tidak bisa, Bu.”
“Kenapa, Ruth?”
Ruth membatu. Menatap mata Ibu.
“Coba katupkan kedua matamu, Ruth. Lalu tidurlah.”
“Tidak
bisa, Bu.”
“Kenapa?”
“Ruth ingin menunggu
pagi, Ibu.”
***
Ruth,
sebelas tahun, berlari-lari di atas rumput di tanah lapang. Tertawa berderaian.
Begitu lepas. Sedetik kemudian Ruth mendongak. Menatap awan putih. Seekor
capung terbang melintasi Ruth. Ruth berlari. Mengejar capung. Menunggu ia hinggap
di ujung rumput. Ruth bersorak. Begitu riang. Capung hinggap di tepi rumput
gajah. Ruth mengintai. Bersiap menyergap sebelum capung terbang meninggalkan
Ruth. Ruth mendesah melihat capung terbang. Menjauh. Terus menjauh. Ruth
mengejar. Berlari. Lebih kencang. Kaki-kaki Ruth memijak duri puteri malu. Satu
dua tetes darah membasah di telapak kaki Ruth. Terusuk duri. Ruth meringis tapi
terus berlari. Mengejar capung.
Capung terbang ke dalam lorong. Begitu kencang. Menghilang.
Membiarkan Ruth terperangkap dalam sebuah lorong. Sunyi. Gelap. Ruth berlarian.
Mencari capung. Mencari jalan keluar. Bergantian. Ruth tak menemukan capung.
Juga tak menemukan jalan untuk menembus lorong. Ruth hanya melihat gelap, dan
sunyi dari dalam lorong. Ruth terjebak pada lorong yang mengunci. Ruth berputar.
Menengadah. Ruth menemukan dua dinding dengan atap yang rendah. Memanjang. Tak
bertepi. Ruth berdebaran. Gelisah terperangkap di dalam lorong.
***
Ruth terus berlarian. Mengitari lorong. Ruth berharap
menemukan sebuah pintu rahasia ditiap sisi lorong. Ya, pintu rahasia untuk
menembus dinding lorong.
“Ruth… Ruth….”
Ruth menyalakan daun telinga.
“Ruth! Ruth! Ruth!”
Dada Ruth berdebaran mendengar sebuah suara. Seperti
tidak asing.
“Ruth… Ruth….”
“Suara Ibu?”
Ruth membatin.
“Ruth.”
Kali
ini tidak salah lagi! Ruth yakin mendengar suara Ibu.
“Ruth… Ruht….”
Ruth hanya mendengar suara Ibu. Tapi tidak rupa Ibu.
“Ruth… Ruth.”
“Ya, Bu.”
“Ruth…”
“Ibu dimana?” Ruth berteriak.
Lalu hening.
Ruth
mengedip-ngedipkan mata. Mencari tubuh Ibu.
“Ruth…
Ruth….”
Terdengar
lebih jelas. Ruth berlari. Mendekat. Mata Ruth menangkap bayang-bayang
berkelebat. Ibu dikepung laki-laki. Satu. Dua. Tiga. Empat. Sekelompok
laki-laki. Menyergap. Melahap tubuh Ibu. Ibu meronta. Lelaki lain mendorong
tubuh Ibu. Ibu terengah. Terdorong dalam tubuh sekelompok laki-laki.
“Ruth…
Ruth…”
Dalam
dekapan laki-laki, lirih Ibu memanggil. Lelaki membekap mulut Ibu. Ibu meronta.
Pakaian Ibu berlepasan. Berjatuhan.
Ruth
mendekat. Lebih dekat. Menolong Ibu. Satu lelaki menyeringai. Menatap Ruth. Lelaki
lain menarik Ruth. Mendorong. Ruth terpental. Menjauh dari tubuh Ibu. Ruth
terhempas. Peluh membasahi kening Ruth. Ruth gemetar dengan nafas yang memburu.
***
“Ruth… Ruth….”
Ibu mengguncang-guncang tubuh Ruth. Menyeka peluh di
kening Ruth.
“Kau sangat ketakutan. Kenapa?”
Ruth masih berdebar-debar. Membisu. Mengedip-ngedipkan
mata. Mengingat mimpi itu. Betapa jelas. Mimpi yang sama. Menyambangi tidur
Ruth. Malam-malam Ruth.
“Dia datang lagi, Bu.”
“Dia? Siapa, Ruth?”
“Mimpi itu.”
“Laki-laki. Sekelompok laki-laki.
Mengepung Ibu.” Dada Ruth membuncah.
“Lupakan Ruth.”
“Tidak bisa, Bu. Ia serupa
bayang-bayang. Mengikuti.”
Ruth gelisah.
Ibu melihat kabut. Di mata Ruth.
Kabut yang sama. Ya, serupa kabut yang berjalan di belakang Ibu. Membayangi.
Ibu mengingat. Malam itu.
Bertahun-tahun lalu. Sebelum Ruth hadir. Sepulang mengaji perempuan berjalan
pada sebuah malam pekat. Diantara rerumpun bambu. Perempuan mendengar sebuah derit.
Berulang. Serupa langkah-langkah kaki berlarian. Begitu cepat. Mata perempuan
menangkap sosok di balik rerumpun bambu. Satu. Dua Tiga. Empat. Begitu ramai.
Perempuan gemetar. Memacu langkah. Lebih cepat. Perempuan terlambat. Sesosok
tubuh menghadang perempuan. Perempuan tersudut. Sekelompok laki-laki
menyeringai. Kegirangan. Memeluk tubuh perempuan. Begitu rakus. Begitu lahap.
Perempuan meronta. Menjerit. Sekelompok lelaki terus melahap tubuh perempuan.
Bergantian. Menindih. Berulang. Meninggalkan nyeri.
Perempuan tersungkur. Menjerit. Kedua
pipi berlelehan. Terus berlelehan. Menjadi kabut. Sebuah kabut yang terus
menerus membayangi perempuan.
***
“Tidurlah, Ruth.”
“Tidak bisa, Bu. Ruth ingin menunggu
pagi.”
“Kau akan menemukan pagi setelah
melewati malam, Ruth.”
“Tapi, Bu. Mimpi itu….”
“Tidurlah, Ruth.” Ibu memotong.
Ruth menatap wajah Ibu. Ruth ingin
berucap pada Ibu. “Bu, kenapa mimpi itu
selalu mengikuti? Apakah mimpi itu merupakan kabut yang selama ini mengikuti,
Ibu?”
Ruth hanya mengucapkan dalam hati.
Tapi Ibu seperti mengerti. “Lupakan
mimpi itu, Ruth. Lalu pejamlah.” Ibu menyahut lalu membelai Ruth.
“Tidurlah, Ruth.”
“Tapi, Bu….”
“Tidurlah. Ruth.”
“Ya, Bu.” Ruth mengalah.
Tangan Ibu membentangkan selimut ke
dada Ruth. Mengecup kening Ruth. Lalu berjalan menuju pintu.
Tubuh Ibu menghilang di balik pintu,
meninggalkan Ruth yang terus berdebaran di tepi ranjang. Ruth gelisah menunggu
pagi.
Pekanbaru,
2015.
Desi
Somalia, alumnus Pascasarjana Ilmu Hukum, Universitas Andalas, Padang. Menulis
cerpen dan essai. Saat ini ia menetap di Pekanbaru.




25%