Putri Pinang Masak sebuah judul buku yang dibedah Griven H Putera, penulis Riau dalam kegiatan
bedah buku pada rangkaian kegiatan Bulan Pusaka 2015 di Toko Buku Gramedia,
Pekanbaru. Kegiatan ini ditaja Riau Heritage, komunitas yang fokus mengangkat
dan mensosialisasikan warisan budaya Melayu Riau. Buku ini ditulis Afrizal Cik,
putra kelahiran Selatpanjang, Riau. Ia mengisahkan kehidupan seorang putri,
Nila Sari (Putri Sulung Raja Numbing, Bintan) yang baru menikah dengan Putra
Rengit Perkasa (Putra Mahkota Kerajaan Merbau). Setelah melangsungkan pesta
agung, Putra Rengit Perkasa ingin membawa pulang Putri Nila Sari berlayar
menuju Merbau, Kepulauan Meranti.
Sebelum berlayar Engku Putri Siluan Intan,
ibunda sang putri memberi pesan agar jangan singgah di Pulau Medang, karena
hantu kiwi menghuni pulau itu. Hantu kiwi dikenal jahat dan dapat menyamar
seperti apa yang mereka mau.
Dalam perjalan di tengah lautan, ombak dan
badai menghantam Kapal Elang Senja yang mereka tumpangi. Untung tak dapat
diraih, nasib pun tak dapat ditolak, dengan terpaksa mereka harus bersandar di
Pulau Medang yang sangat ditakutkan. Lalu Putra Rengit Perkasa pun melihat keadaan
di luar kapal. Saat ia keluar hantu kiwi tertarik dengan Putra Rengit Perkasa.
Lalu hantu kiwi berniat menyingkirkan sang putri, ia pun menghampirinya, dan
membuangnya Putri Nila Sari ke Selat Pinang Emas (masak). Putri tenggelam dan
ditelan Ikan Jerung, ikan yang sangat besar.
Putra Rengit Perkasa kembali ke dalam
kapal, ia mendapati Putri Nila Sari tidak seperti biasanya, ada kelakuan dan
tingkah yang sangat aneh dan berubah-ubah. Karena mereka terdampar di Pulau Medang,
ia mengira istrinya sudah dirasuki hatu kiwi. Karena itu mereka cepat-cepat
meninggalkan pulau itu.
Ikan Jerung yang memakan Putri Nila Sari
merasa tak nyaman dan sangat menderita, karena
putri memegang tali perutnya, boleh jadi karena putri juga orang yang
bertuah lantaran ia keturunan orang terpandang. Ikan Jerung pun kesana kemari
tanpa arah, lalu mati dan terdampar di Tanjung Motong, kampung kecil di wilayah
kerajaan Merbau. Putri yang berada di dalam perut ikan masih terus berteriak
dan meminta tolong. Nek Ketiung yang menyisiri pantai mendapati ikan besar itu,
dan ia mendengar ada suara minta tolong dari perut ikan. Nek Ketiung membelah
perut ikan, dan benar ia mendapati seorang perempuan jelita. Perempuan itu
menyebutkan namanya, Sri Seroja. Ia menyembunyikan identitasnya sebagai istri Putra
Rengit Perkasa.
Mulai saat itu Sri Seroja hidup bersama Nek
Ketiung yang sehari-harinya berjualan sirih, pinang dan lain-lain ke pasar dan
keliling sampai ke istana. Sri Seroja sangat pandai merangkai bunga. Ia minta Nek
Ketiung sekalian menjual rangkaian bunganya di istana. Bujang Mengkopot pegawai
istana, iba melihat perempuan tua itu lantaran tak ada yang membeli rangkaian
bunga yang dibawanya.
Bujang mengkopot lalu membelinya, dan
hendak menghadiahkan pada kekasihnya. Bujang mengkopot menitipkan rangkaian
bunga itu pada inang tua, yang juga pegawai istana untuk menyampaikannya pada
kekasihnya. Sebelum inang tua menyampaikan rangkaian bunga itu, Putra Rengit
Perkasa melihatnya, dan sadar tidak ada seorang pun yang bisa membuat rangkaian
bunga seperti itu kecuali Putri Nila Sari. Putra Rengit Perkasa pun menyuruh
Bujang Mengkopot menyelidiki di mana perangkai bunga itu tinggal.
Cerita di atas lah yang disarikan Griven H
Putera dari buku Putri Pinang Masak di
hadapan peserta bedah buku malam itu, Sabtu, 25 April 2015. Ia menilai cara
Afrizal Cik mengisahkan Cerita Rakyat Melayu dalam buku ini ada sedikit
kemiripan dengan cara Soeman Hs, Bapak Cerpen Nasional dalam menuliskan karya-karyanya.
Kemungkinan ini dikatakannya, lantaran Afrizal Cik dan Soeman Hs sama-sama
lahir di daerah pulau, meski pulaunya berbeda, karena Soeman Hs di Pulau Bengkalis
sedangkan Afrizal Cik di Selatpanjang, Kepualaun Meranti. Selain itu, Afrizal
Cik juga menceritakannya lewat buku ini penuh dengan unsur budaya dan bahasa
Melayu, dengan bahasa elok, sederhana dan terkadang kocak.
. Selain itu, hadir juga dari perwakilan
Pengurus Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau dan beberapa penulis dan pegiat budaya
Melayu Riau. Beberapa peserta bedah buku turut menanggapi isi cerita dalam buku
Putri Pinang Masak ini, seperti
seorang putri tetap bisa surfive
meski hidup di luar istana. Selain itu ada kemiripan kisah putri yang dimakan
ikan Jerung dengan kisahnya Nabi Yunus yang tetap dapat hidup dalam perut ikan.
Menurut Griven ini boleh jadi karena Melayu begitu dekat dengan Islam.
Selain itu pun pada kesempatan itu mereka membicarakan
betapa anak muda sekarang tidak tertarik dengan kebudayaan sendiri. Hal ini
menjadi kekhawatiran bersama bagaimana mengemas dan mempromosikan agar
kebudayaan lebih dekat dan dicintai masyarakat, terutama anak muda.
Diantaranya, lewat buku-buku cerita rakyat seperti yang ditulis Afrizal Cik.
Namun tidak cukup dengan membukukannya saja, para penerbit buku yang mempunyai
jaringan nasional seperti Gramedia juga harus memberikan ruang kepada
penulis-penulis buku seperti ini. Selain itu mengemas cerita-cerita rakyat itu
dengan visual, film seperti kisah Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk, yang berangkat dari kebudayaan Minang, Sumatera
Barat harus menjadi alternatif menyampaikan nilai-nilai budaya kepada anak muda.***
(Abdul
Hamid Nasution, Bergiat di Rumahkayu
Pekanbaru)





25%