Cerpen Alizar
Tanjung
Suara NTB, Sabtu, 9 Maret 2015
“Aku ingin tinggal dalam bulan,
bersedia kah Abang tinggal bersamaku?” kata Santi. Mantan pacarku. Ia datang ke
rumahku membawa sepasang kaki. Sepasang tangan. Sepasang sepatu hak tinggi.
Sehelai rok mini. Duduk di sofa. Menghidupkan tv seperti kebiasannya saat jadi
pacarku. Mengganti-ganti channel. Menyandarkan
tubuhnya manja. Melirikku dengan tatapan ganjil. Aku pikir setan bersarang di
mata, di telinga, di bibir, di roknya Santi.
“Minum jus melon atau anggur?” Tawarku.
“Segelas kopi.” Pinta Santi. Santi
perempuan yang cantik. Pandai memilih gaun. Berambut sebahu. Berpelipis tipis.
Tidak ada yang kurang pada Santi. Lebih cantik dari perempuan pada umumnya.
Kemudian
kami duduk kembali. Bersibelahan di atas kursi. Dia menutup rok mininya dengan
tasnya yang merah hati. Kemudian mematik sebatang kretek.
Dua gelas kaca di atas meja. Aku
minum jus terung. Aku suka darah. Darah terung membuatku puas. Santi suka jus
melon. Jus melon membuat kulitnya lembut. Mungkin pagi ini alasannya memesan
kopi sebab ingin memanasiku saja. Ia kira aku akan menasehatinya dan berkata,
“Santi, kopi tidak baik untuk kesehatanmu”, kemudian berbalik kepadanya
menyatakan bahwa aku masih sayang sama Santi. Ah, Santi, aku tidak akan
menasehatinya.
“Jus lemon,” aku suka katanya. Suatu malam
kami duduk di cafe Cafetaria jalan Ayam Wuruk, jalan menuju jembatan
Sitinurbaya, perempuan memabukkan dan memalukan bersama Syamsul Bahri. Aku
kencan dengan Santi di Malam Minggu. Aku memesan segelas jus terung. Santi
memesan jus melon kesukaannya. Duduk berhadap-hadapan sambil mendengarkan music
jazz: Dreaming you, All i am, after the love has gone, rivers of love,
Thinking about you.
“Aku penggemar terung. Melihat darah
terung membuat aku puas. Hal-hal yang berbaur darah membuat kelelakianku naik.”
Santi bergidik mendengar perkataanku. Tetapi kemudian dia menggodaku.
Mengerdipkan matanya.
“Jus
lemon membuat kulitku mulus.” Aku tidak suka perkataannya. Bagaimanapun aku
lelaki pecemburu. Kalaulah Santi tampil cantik banyak lelaki meliriknya.
“Jazz
dengan campuran sasopon menurutku sungguh melenakan.” Sengaja aku alihkan
pembicaraan. Ia langsung terbawa suasana. Mengajakku bernyanyi. Kami bernyanyi
sampai larut malam. Hingga malam itu kami pulang dini hari.
“Kita
beli jus terung,” kata Santi ketika bertemu café di jalan Cokroaminoto. Pulang
membawa dua jus terung. Besoknya pagi-pagi sekali aku putuskan Santi. Ia resmi
menjadi mantan pacarku sedetik sesudahnya.––Tidak, aku tidak menghamili dia.
Aku hanya membiarkan dia tidur sendirian di kamar. Aku tidur di sofa menikmati
siara tv sampai jam dua dini hari. Saat terbangun ia telah menghidang dua gelas
jus yang tak sempat kami minum sepulang café Cafetaria.
“Sebaiknya
kita berpisah setelah pagi ini,” ujarku sehabis sarapan pagi. Menikmati roti
diolesi mentega dan direndam caffucino.
“Abang
bercanda?” kata Santi. Kemudian Santi tertawa. “Kita sudah bahagia untuk
bersama. Tidak bertengkar. Bahkan selalu tertawa dan ceria. Tidak ada alasan
untuk itu.” Kemudian Santi kembali mengoleskan mentega di rotiku.
“Sebab
kita bahagia, aku memilih berpisah. Kita terlalu ceria untuk bersama, Santi.”
Santi masih saja tertawa. Roti di mulut Santi menyembur ke bajuku. Aku dan
santi tertawa terbahak-bahak. Sangat lama sekali. Jam tujuh pagi, Santi pamit.
Sesudahnya aku tidak pernah menghubungi santi kecuali pada masa yang lama
sesudah itu.
***
Suatu
senja aku dan Santi secara tak sengaja bertemu di café Cafetaria. Bukan di hari
Minggu. Aku sehabis lembur di hari Kamis. Mulanya aku ingin duduk paling pojok.
Tapi apa kata Santi kalau ia lihat aku menghindar. Aku yang terdorong masuk
café mengambil duduk di depan Santi. Aku duduk memesan segelas jus lemon. Santi
memesan segelas jus terung.
“Kabar
baik,” kataku ketika Santi menanya bagaimana kabarku.
“Kabarku
baik juga,” kata Santi, tanpa aku tanya. Santi menanyakan apakah aku masih
terlalu bahagia.
“Tumben
kau sekarang lebih suka jus terung?” kataku tanpa mengubris pertanyaan Santi.
Aku sangat malas membicarakan kebahagian.
“Abang
kenapa juga lebih suka sekarang memesan jus lemon?” Kata Santi. “Jus terung
ternyata enak sekali,” ujar Santi.
Aku
ingin mengatakan kepadanya. Sebenarnya jus lemon juga sangat enak. Ah, untuk
apa aku katakan semua itu. “Aku hanya lagi ingin mengganti seleraku saja.” Diam.
“Aku hanya lagi tidak ingin saja menikmati jus terung,” ujarku ketika pelayan café menyodorkan segelas
jus lemon. Lengkap pipetnya.
Aku
dan Santi bertukar panjang lebar tentang hari-hari yang aku dan Santi lewati
selama tak bertemu. Santi lebih banyak bicara, aku lebih banyak mendengar.
Santi mengaku sering menangis mengingatku. Kata Santi, ia selalu datang setiap malam
Minggu ke cafe Cafetaria. Pulang malam, berjalan sendirian. Kata Santi juga, ia
suka memesan segelas jus terung sambil mendengarkan lagu jazz after the love has gone sambil
membayangkan aku dan Santi bernyanyi bersama. Ah, memang dasar perempuan. Kata
Santi juga, ia sekarang bekerja sebagai guru ngaji dan guru anak-anak TK.
Kemudian Santi mengambil tanganku.
“Aku
sekarang menikmati berpisah.” Penuturan Santi sungguh berbalik dengan rasa
rindu. Ah, sialnya aku suka perempuan yang berpikiran terbalik.
“Aku
kira aku suka lemon.” Terucap juga perkataan yang tak ingin aku ucapkan. Santi
tak mendengarkan perkataanku. Ia menarik tanganku. Naik ke panggung. Memintaku
bernyanyi bersamanya.
“Aku
suka darah jus terung membuat keperempuananku bergelora,” bisik Santi. Aku dan
Santi bernyanyi sampai dini hari. Aku dan Santi pulang tanpa membeli jus
terung. Malam itu Santi kembali tidur di rumahku. Santi tidur dalam kamarku.
Aku tidur di sofa. Paginya kami sarapan dengan roti mentega. Dua gelas
Caffucino. Dua sendok susu coklat kental. Sesudahnya santi minta pamit.
“Aku
ingin mengakhiri pertemuan ini dengan ciuman, Abang. Percayalah aku akan
mengingat Abang sebagai kekasih abadi, juga sebagai teman, juga sebagai
laki-laki yang suka darah terung.” Aku dan Santi berpisah di pintu tanpa
membiarkan Santi mencium bibirku. Hari itu Santi pulang dengan rasa kecewa. Dia
sedikit pun tidak menoleh ke belakang dari jalan.
***
“Maukah Abang antarkan aku menuju
Bulan, kamar-kamar putih dan gaun-gaun sutra?” Santi mulai mendekat kepadaku. Santi
memang susah ditebak, dahulu dia mengucapkan lain sekarang ia menginginkan
lain. Santi membukakan tasnya. Mengeluarkan dua jus; satu jus terung dan satu
jus lemon. Ia letakkan di atas meja. “Aku membelinya dini hari tadi sepulang
kerja. Aku sekarang kerja di café Cafetaria sebagai penyanyi pop di malam
Minggu.” Tanpa diminta Santi langsung meminum jus terung. Ia juga meminum kopi.
Ah, gila santi.
Aku meminum dua gelas jus; Jus lemon
dan jus terung. Aku juga meminum satu gelas kopi. Pagi itu kami kembali tertawa
terbahak-bahak. “Abang memang lelaki yang lucu. Diajak hidup bahagia malah
lebih suka menikmat jus terung.” Aku tidak suka lelucon santi. Dalam hati aku
berkata mungkin aku memang laki-laki yang lucu yang tidak menerima kedatangan
perempuan cantik dalam hidupku.
“Ternyata
kopi, jus terung, jus lemon terasa asyik kalau bercampur tiba di lidah,”
ujarku. Pagi itu aku tidak berangkat kerja. Tidak enak membiarkan Santi
sendirian di rumahku.
Santi
minta tidur di kamarku. Katanya ia mengantuk sekali. Aku biarkan ia tidur. Jam
12 siang ia bangun. Santi mandi, menggeraikan rambutnya. Ia menawarkanku memasakkan mie goreng, telur dadar,
sayur bayam, nasi. Santi menghidangkan di meja makan untuk makan siang.
Menuangkan nasiku dalam piring, taburan mie goreng, sayur bayam. Kemudian santi
mencucikan bajuku. Menstrika. Ia juga menyediakan aku air panas untuk mandi.
Seharian
aku dan Santi cuman di rumah. Seharian pula aku dan Santi berbagi banyak hal.
Pekerjaan sebagai penyanyi pop tidak menyenangkan, kata Santi. Banyak lelaki
jalang yang pura-pura minum jus, juga ada om
om yang suka mengasih uang. Ah, Santi ia kira aku akan cemburu. Kemudian
menyatakan bahwa sesungguhnya aku juga ingin hidup bersama dengannya,
memberikan anak, memasukkan ia sekolah, memberikan uang jajan, dan membawanya
berekreasi ke Gunung Padang, Lubuk Paraku, Lubuk Minturun, Pantai Bungus, Bukik
Lampu, Pantai Carocok, Pasir Putih, Rumah Mak Rabiah, Lubuk Mata Kucing.
“Sebaiknya
kau lebih banyak saja istirahat.”
“Ah
Abang, aku tidak akan lama di sini,” ujar Santi. Sungguh tidak ada niatku untuk
mengusir Santi. Maksudku sebaiknya Santi melanjutkan istirahat di kamarku.
Kalau lapar tinggal buat ulang lagi mie goreng. “Aku setelah ini akan tinggal
di bulan,” ujar Santi. Sangat serius sekali wajahnya. “Mau kah Abang tinggal
bersamaku di bulan?” Santi mengucapkan bahwa di bulan ada banyak kamar yang
bisa aku dan Santi tempati. Kalau mau makan dan minum tinggal pesan, maka akan
datang dengan sendirinya. Aku kira Santi hanya berkhayal saja.
“Tampaknya
kita malam ini harus mencari jus terung dan lemon. Terserah apa aku yang minum
terung atau kau, Santi,” kataku. Aku tidak ingin menjawab pertanyaan Santi.
Hanya pertanyaan anak kecil yang ingin tinggal di bulan. Malamnya setelah santi
kembali ke rumahnya dan janjian bertemu di café, Santi tidak datang. Ada sesuatu
yang aneh di dadaku, kenapa Santi tidak datang? Nafasku sesak.
Dua
jus telah terhidang di mejaku. Dua jus yang akan aku tawarkan kepada Santi.
“Kamu mau minum jus terung atau lemon, Santi?” Tapi santi tidak pernah datang.
Aku menunggu sampai dini hari. Santi benar-benar tak pernah datang. Jam tiga
dini hari ketika aku sampai di rumahku, hpku bordering, bunyi jazz after the love has gone . Sebuah pesan
dari Santi, “Maaf aku ketiduran, Bang. Barusan saja bangun.” Tak aku balas
pesan santi. Percuma saja, kini aku juga ingin menghempaskan badan di sofa.
Pesan
bertubi-tubi datang dari Santi. Aku biarkan pesan-pesan itu tidak dibuka. Aku
lagi benar-benar tidak mood untuk membaca pesan-pesan Santi. Hpku masih saja
berdering. Aku lemparkan hpku ke kursi dekat tv. Menikmati musik jazz hp itu
sebagai musik pengantar tidur.
***
Pagi-pagi sehabis sarapan roti
diolesi mentega dan segelas jus terung, aku membuka pesan-pesan santi. Ada
sepuluh pesan dari Santi. Santi benar-benar ingin tinggal di bulan. Kata Santi
bulan itu ada di kamarku. Bulan itu ada dalam lipatan kainku. Aku bergegas ke
dalam kamar. Aku bongkar lipatan-lipatan kainku. Aku tidak menemukan apa-apa,
kecuali lipatan-lipatan kainku yang distrika Santi. Aku menemukan bau parfum
Santi di lipatan bajuku. Aku bongkar sekali lagi baju-bajuku, Santi rupanya
menyimpan sepasang cincin dalam lipatan bajuku.
Aku hubungi-hubungi nomor santi.
Nomor Santi tidak aktif. Aku buka kembali pesan-pesan Santi. Barangkali ada
pesan yang tidak tuntas aku baca. Pesan-pesan santi semuanya tidak ada yang
aneh selain kegilaan Santi belakang-belakangan ini. “Aku ingin tinggal di
bulan.” Aku keluar rumah menuju rumah Santi. Kata pembantunya Santi, Santi
barusan pergi jam sebelas malam tadi dijemput oleh seorang laki-laki gagah
dengan mobil. Aku kembali pulang ke rumah menghempaskan badan di kamar. Sebuah
pesan Santi masuk dalam hpku, “Aku harus pergi membawa jus terung dan jus
lemon.” Aku hubungi Santi, aku ingin katakan kepadanya bahwa aku benar-benar
tak bisa hidup bahagia bersamanya. Tapi nomor santi tidak aktif.
Tak lama pesan Santi kembali masuk: Bulan
ternyata memiliki taman putih yang indah, air-air putih yang mengalir deras,
daun-daun putih yang semerbak, bunga-bunga yang mekar mawar. Tentu saja aku
tidak percaya dengan semua kebohongan Santi. Aku kemudian berangkat kerja
dengan seperangkat tanda tanya kepergian Santi.
***
Kini sudah sepuluh tahun aku tidak
kedatangan santi. Kemarin, dua hari yang lewat tiba-tiba pesan santi masuk ke
hpku. Santi telah menikah dengan lelaki yang membawanya tengah malam. Kata
santi, Santi telah memiliki tiga orang anak. Tiga orang anak yang ia ajari
meminum kopi, jus terung, jus lemon. Kata Santi juga, Santi telah memiliki café
sendiri tempat ia bebas benyanyi pop, mendengarkan lagu jazz.
Sebenarnya
aku tahu Santi sangat menginginkan aku sebagai bulan dalam kehidupannya. Aku
juga tahu hatiku sangat ingin menjadikan santi bagian dari bulan dalam hidupku.
Tapi seperti yang aku bilang aku sangat haus dengan darah terung. Darah terung
yang membuat aku buas. Maka selama kepergian Santi aku tidak memutuskan untuk
menikah, seperti juga ketika keberadaan Santi. Bahwa sebenarnya aku lelaki yang
tidak akan sanggup memberikan anak kepada Santi. Kini darah terung itu
diwariskan Santi kepada Anaknya. Santi, pasti juga telah mendengarkan kepada
anaknya lagu jazz after the love has gone.***Padang, 2014
*Alizar
Tanjung, sedang menyelesaikan program S2 di Jurusan Pendidikan Islam, IAIN Imam
Bonjol Padang.



25%