ALIZAR TANJUNG
Singgalang, 21 Juli 2015
Angin utara
berhembus kencang. Seorang perempuan kecil dan seorang anak lelaki duduk di
atas batu jenjang. Batu berundak yang disusun dari batu-batu pipih. Menghadap
ke barat. Menghadap menembus batas angin. Menantang matahari. Lalu angin
menyelinap ke rambut mereka. Rambut perempuan bergerai ke selatan, menutupi
pipinya yang mungil. Ya, setiap sore kalau dipandang dari barat menembus batas
angin, akan selalu dilihat seorang perempuan kecil dan seorang anak lelaki suka
bercerita di jenjang batu. Di belakang mereka rumah kayu, rumah sederhana.
“Kita menikmati
senja, Amelia,” kata lelaki. Lelaki duduk sejajar dengan perempuan. Sama-sama
menghadap ke barat. “Aku sudah berulang kali mengucapkan kalimat ini. Sekarang
sudah ke sekian ribu aku ucapkan.” Matanya menatap ke matahari senja, matahari
yang tidak menyilaukan matanya. Terpantul matahari itu di matanya. Dia duduk di
sebelah kanan perempuan. Mengerucutkan tangannya di dua lutut yang mungil.
Lutut itu tidak tertutup. Celananya hanya sampai sebatas batas paha.
“Kita memang
sudah berulang kali mengucapkannya Kak.” Perempuan sejenak menoleh ke pipi
lelaki. Pipi lekaki tampak hitam dimakan matahari. Tetapi pipi itu tetap
menarik dan berkilau. Lelaki pura-pura tidak menyaksikannya. Perempuan kembali
mengalihkan pandangannya. Menunjuk matahari. “Menikmati matahari yang tenggelam
di ujung Langit, Kak,” ujarnya. “Matahari yang tidak akan pernah meninggalkan
kita.”
Lelaki
mengangguk.
“Ya, ya, kita
menikmati senja di ujung langit. Sebentar lagi matahari tenggelam. Sebentar
lagi malam benar-benar datang.” Lelaki mengikuti telunjuk perempuan. Telunjuk
mereka bertemu. Mereka tertawa. Perempuan melilitkan mata kanannya ke lelaki.
Kemudian tersenyum. Kembali menarik sudut matanya, menoleh ke matahari kulit
jeruk matang.
“Matahari itu
tidak akan tenggelam, Kak. Dia akan tetap di sana. Sebab kita tetap di sini.
Kalau kita sudah pindah baru dia tenggelam.”
“Dirimu semacam
Tuhan saja, Amelia.”
“Matahari akan
tetap menemani kita.” Perempuan melingkarkan telunjuknya seperti melingkari
matahari. Tersenyum. “Dengarkan, Kak. Matahari itu berjanji tidak meninggalkan
kita.”
“Ha ha ha.”
“He he he kakak
tertawa.”
“Iya Amelia.
Habis kamu lucu.” Lelaki mengikuti gerakan jemari telunjuk perempuan. Melingkari
matahari. Lalu matahari itu seperti menjadi milik mereka berdua. Mereka
pertemukan dua ujung telunjuk. Sepakat menunjuk matahari bersama.
“Ha ha ha,” tawa
mereka berdua. Tangan kiri lelaki memegang bahu kiri perempuan. Merangkulnya
perlahan. Bahu perempuan beradu dengan tulang iganya. Sejenak ia menolah ke
pipi perempuan. Perempuan tersenyum. Rambutnya kembali dihembus angin utara,
bertiup ke pipi lelaki.
“Rambutmu panjang
Amelia.”
“Aku merawatnya,
Kak.”
“Aku suka.”
“Aku juga suka,
Kak.”
Mereka berdua menurunkan
telunjuknya dari lingkaran matahari. Kembali mengerucutkan di lutut. Mereka
membiarkan matahari menyapu wajah mereka dengan cahaya. Cahaya itu memperindah
lelaki dan perempuan. Sekejap mereka berluluran cahaya senja. Dua ekor burung
terbang melintas di udara. Selalu begitu, setiap mereka duduk di tangga, dua
ekor burung melintas membelah matahari. Lalu matahari itu akan kembali bulat.
“Kenapa dua
burung itu terbang melintasi cahaya matahari senja, Kak?”
“Mereka juga
mencintai cahaya matahari senja.”
“Seperti kita?”
“Tidak, Amelia.
Seperti mereka sendiri.”
“Aku tidak
mengerti, Kak.”
“Mereka mencintai
cahaya matahari senja karena mereka suka. Kita mencintai cahaya matahari senja
karena kita suka.”
“Aku tidak
mengerti.”
“Ya ya ya.”
Lelaki merangkul
perempuan ke dalam pelukannya. Tangannya mengusap rambut perempuan ke punggung.
Perempuan merasa nyaman di dada lelaki. Lelaki merasakan nafas perempuan yang
turun-naik dengan perlahan. Perempuan menyatu dengan lelaki. Cahaya matahari
senja menyusup ke balik rambut perempuan yang meramu merah.
“Apakah di
matahari itu senyaman di dada Kakak?”
“Hmm.”
“Kak.”
“Hmmm.”
“Maukah Kakak
mengajak Amelia ke Matahari Senja?”
“Hmmm.”
Rumah kayu di
belakang mereka berderit dihembus angin utara. Papan-papannya saling mengericit.
Atap berdentang. Daun-daun kulit manis berhamburan ke halaman. Sehelai daun
kulit manis yang masih hijau jatuh di bahu kanan lelaki.
“Untukmu,
Amelia,” kata lelaki mengenduskan daun kulit manis di hidung Amelia. Amelia
merebutnya. Meletakkannya di telapak tangan. Membiarkan daun itu kembali lepas
ke udara. Angin utara kembali bertiup tenang. Amelia bergerak, melepaskan
sandaran tubuhnya dari dada lelaki. Lelaki mengusap kepala Amelia. Amelia
mencubit lelaki. Lelaki meringis. Kembali mereka memperhatikan matahari senja.
Dua ekor burung itu sudah melesat ke selatan bersama angin utara. Mereka saling
pandang.
“Aku menginginkan
burung itu,” kata Amelia menunjuk ke selatan. Ke ujung horison langit. Burung
itu melesat mengecil seperti terbang burung anggang yang menjauh. Lelaki
tersenyum. Mengacak-acak rambut perempuan. Mata mereka sama-sama memandang ke
selatan ujung langit.
“Tidak mungkin
kita menangkap burung terbang.”
Mereka bercanda
saling cubit. Batu-batu di bawah mereka ikut bergoyang. Batu-batu yang tak
sanggup di goyang angin utara. Puas bercanda kembali memandang ke ujung langit.
“Kenapa mereka
sepasang, Kak?” Tanya perempuan menunjukkan nada heran dan kecewa.
“Karena mereka
kekasih, Amelia.”
“Kekasih?”
“Hmmm. Coba lihat
sini.”
Perempuan menoleh
ke kanan. Lelaki mencubit dan menarik pipi perempuan. Perempuan membalasnya.
Mereka tertawa. Perempuan kembali menyandarkan tubuhnya di bahu lelaki. Lelaki
memeluknya. Matahari menyelinap ke senyum mereka. Matahari memantul di empat
bola mata mereka.
“Senja matahari indah, Kak. Ada rumah-rumah
cahaya di kabut.” Perempuan menunjuk rekah awan. Rekah awan yang menyerupai
istana yang sering ia temukan dalam mimpinya. Istana yang memiliki tujuh pintu
masuk menuju tangga cahaya. Setiap pintu memiliki penjaga bergaun cahaya emas.
Ia disambut dengan pincuran air yang bening lagi menyejukkan. Perempuan merasa
ia telah di surga. Ya, ya, itu sering ia temukan dalam mimpinya.
“Selalu begitu.
Dan akan selalu begitu, Amelia. Kemarin, kemarin, dan kemarinnya lagi.”
“Esok, Kak?”
“Ya.”
“Kak, Amelia
boleh ke sana?”
“Tidak sekarang
Amelia.”
“Suatu hari
nanti, Kak?”
“Ya, ya, suatu
hari nanti.”
“Kak.”
“Hmmm.”
“Kak.”
“Hmmm.”
“Tidak ada apa-apa.”
Kini angin utara
tidak berhembus dengan kencang. Tapi daun-daun kulit manis kembali berguguran
dari sisi kiri halaman. Daun kulit manis itu berguguran membuat lelaki dan
perempuan bagaikan bermandikan cahaya. Lelaki dan perempuan menikmatinya.
Mereka sama-sama merentangkan tangan. Meniup aroma kulit manis yang khas.
Daun-daun kulit manis bermandikan cahaya, berkilau-kilau keemasan sebelum jatuh
ke tanah. Ya, ya, berkilau-kilau keemasan sebelum jatuh ke jenjang batu. Di
belakang lelaki dan anak perempuan tetap berdiri rumah kayu; dinding yang
melapuk, atap yang bolong, sandi yang berderit-derit, rumput-rumput yang
menjalari papan. Matahari senja di barat berkilau buah jeruk. Dan akan
selamanya begitu.***Padang




25%