Cerpen Astriani Sefitri
Tempat
ini yang menjadi tempat favoritku sejak 2 tahun yang lalu gang sempit di salah
satu sudut kota Bandung. Tidak banyak orang-orang yang melewati gang ini,
kebanyakan orang takut melewatinya, bukan karena hawa mistisnya, belum pernah ada
warga yang lewat melihat pocong goyang-goyang sendiri, kuntilanak sedang
menyisir rambut, atau tuyul yang mondar-mandir sibuk menghitung uang. Tapi
karena gang ini, penuh dengan hawa criminal.
Banyak kejadian pemalakan, perampokan
bahkan pernah ada yang dihipnotis dan kemudian seluruh hartanya dikuras habis di
gang ini, selain itu gang ini sering di jadikan tempat berlindung anak-anak dari
kejaran polisi setelah selesai adu jotos dengan musuh sekolahannya.
Di pojok luar dari gang ini ada
sebuah warung kecil yang menjual berbagai macam makanan, terkadang aku sering
memesan mie instan dan kopi putih kesukaanku. Mie instan buatan ibu warung
menurutku sangat berbeda rasanya dengan mie instan buatanku dirumah. Meskipun
bahan yang digunakan tetap sama, berasal dari mie, tetapi ada rasa plus
tersendiri yang aku rasakan ketika menyantap mie instan buatan ibu warung ini.
Panas matahari semakin hari semakin
menantang, energi panas yang dipancarkan hampir membuat tubuhku melepuh,
merubah warna kulitku dari yang berwarna coklat manis jadi hitam legam. Memang tidak bisa 100% menyalahkan alam yang
semakin hari semakin tidak bersahabat kepada penghuninya, manusianya sendirilah
yang berbuat seenaknya kepada alam, gemar mengendarai sepeda motor atau mobil
yang membuat polusi udara semakin bebas berkeliaran, selain itu, tumbuhan yang
seyogyanya bisa menjadi paru-paru kota kini
banyak yang ditumbangkan dengan paksa demi berdiri tegaknya gedung-gedung
pencakar langit, pusat perbelanjaan dan hotel-hotel mewah, sehingga tidak perlu
aneh jika banjir dimana-mana mulai terlihat itu akibat ulah manusia sendiri.
Aku terus menghapus peluh keringat yang terus mengucur dari dahi ke wajah,
kemudian dari leher ke badan, sampai kemeja putih yang sedang ku pakai terlihat
lebih transparan karena jiplakan keringat basah yang menempel pada kemejaku.
“ Teu ngiring tawuran?” Tanya ibu
penjaga warung yang memang sudah kenal akrab denganku. Setiap pulang sekolah,
seharipun aku tidak pernah absen mengunjungi warung ini, hanya sekedar untuk duduk
santai sambil menikmati mie instan favorit dan segelas kopi putih buatan Bu Jejen,
sapaan pemilik warung ini.
“ Lagi gak ada schedule bu” jawabku enteng. Aku berpikir sejenak memang alangkah
lebih baiknya jika tawuran itu seharusnya ada jadwal, terutama untuk menghindari kejaran aparat
keamanan yang berdalih ingin menertibkan murid-murid yang terlibat tawuran. Aku
jadi ingat sekitar 2 bulan yang lalu aku pernah terlibat aksi serang ke sekolah
swasta yang merupakan musuh utama dari sekolahku, nothing problem sebenarnya hanya menyangkut harga diri, sebelumnya
kami pernah adu jotos dengan sekolahan serupa tapi disaat itu kamilah yang
kalah hingga akhirnya kami selalu dipandang remeh setiap lewat depan salah satu
siswa SMA itu.
“ Aneh pisan euy, naha tawuran teh
pake schedule sagala? Emangna artis
kitu aya schedule” sindir bu Jejen
sambil memberikan sepiring gorengan yang telahku pesan sebelumnya. Aku geli
sendiri mendengar ocehan bu Jejen, tidak mungkin tawuran itu di schedule, hari ini tawuran dengan
sekolah mana, besok dengan sekolah mana, bulan depan dengan sekolah mana, tahun
depan mungkin bisa mengajak tawuran anggota-anggota dewan.
“ Manusia hidup penuh dengan harga
diri bu, kalau bu Jejen gak punya harga diri, mungkin dagangan ibu gak akan
laku” aku mengangkat bala-bala buatan bu Jejen mencoba memberi penjelasan
sejelas-jelasnya melalui sebuah objek yang berada di depan mata.
“ Hubunganna naun bala-bala ibu
jeung eta harga diri?” Bu Jejen semakin penasaran. Aku semakin geli melihat Bu Jejen
bertingkah seperti itu. Aku tidak menuntaskan penjelasanku, biarlah bu Jejen
penasaran.
Hari ini aku pulang kerumah lebih
awal, rumahku terletak di sebuah perkampungan di daerah Bandung, tepatnya di
belakang gang favoritku ini. Ukuran rumahku tidak terlalu besar, tentunya
dibanding rumah-rumah yang berjejer megah di dekat rumahku. Aku mempunyai
seorang adik perempuan bernama Elin yang baru berusia 10 tahun, disekolah Elin
terkenal pintar, setiap tahun selalu menjadi bintang kelas, selain itu Elinpun
terkenal dengan tulisannya disekolah yang setiap minggu selalu menjadi langganan
madding di sekolahnya, berbeda jauh kalau dibandingkan denganku, di bilang
pintar, tidak. Untuk mendapatkan nilai 8 di setiap mata pelajaran saja susahnya
minta ampun. Ayah dan ibuku sudah lama tidak pernah menginjakkan kaki dirumah
ini, tidak tahu kemana rimbanya, rasanya aku dan Elin seperti dibuang, di rumah
ini memang ada kakekku yang bersedia dengan tulus mengurusi kami. Aku sebagai
anak laki-lakipun tidak tinggal diam, aku berusaha membantu kakek untuk
menopang ekonomi keluarga kami. Saat sore hari aku berjualan plastik di pasar
baru Bandung, dimana sudah menjadi surganya orang belanja dari berbagai penjuru
kota datang, bukan hanya lengkap tapi harga-harga barang di tempat ini cukup murah.
“ Kak, liat deh” Elin menghampariku
ketika aku baru sampai dirumah. Elin menunjukan sebuah kertas dan terdapat
tulisan tangan di didalamnya.
“ Ini apa lin? Kamu bikin puisi?”
Tanyaku ketika melihat isi tulisan itu berbait-bait. Elin tidak menjawab, hanya
sebuah senyum kecil dari sudut mulutnya dan tatapan berbinar menunjukan kalau
memang hari itu dirinya telah menyelesaikan puisi hasil goresan penannya.
Aku melemparkan senyum kepada elin dan
mulai membaca puisi buatannya.
Dialah
kakaku
Sosoknya urakan, tak pernah dandan,
dan ganas….
Kulitnya hitam legam selalu
terbakar oleh sinar matahari yang panas…
Peluhnya selalu bercucuran, keringat
yang menetes selalu tak terhitung pantas…
Dialah kakaku…..
Di balik tatapan matanya yang
sangar, tersimpan cinta yang dalam, untukku….
Di balik wajahnya yang masam, tersimpan
kerinduan yang dalam, untukku….
Di balik gerak tubuhnya yang kasar,
tersimpan kasih sayang, untukku…..
Di balik suaranya yang besar, yang
mampu menggema setiap sudut rungan, bak halilintar yang datang sebelum hujan
turun, tersimpan kelembutan, untukku…..
Dialah kakaku…..
Yang tak pernah memejamkan matanya
sebelum kelopak mataku tertutup rapat….
Yang tak pernah marah meskipun aku
kerap menyulut amarahnya….
Yang tak pernah membuat goresan di
tubuhku, ketika sikap kekanak-kanakanku mulai menyeruak keluar…
Dialah kakaku……
Selesai
membaca beberapa bait puisi goresan Elin, aku melempar senyum kepadanya. Adikku
ini memang pandai sekali menulis, dan inilah salah satunya puisi yang menurutku
sangat indah dibaca. Meskipun penggamaran aku dalam puisi itu terlalu berlebihan.
Aku memang sangat menyayangi Elin, karena hanya dialah penyemangat hidupku,
harta satu-satunya yang ditinggalkan ayah dan ibu sebelum mereka raib bak
ditelan bumi.
“ Kakak suka sama puisi Elin?” Tanya
Elin menatap mataku penuh harap. Aku tidak menjawab hanya sebuah anggukan pelan
kuberikan untukknya. Elin langsung memelukku erat aku bisa merasakan betapa
kasih sayangnya begitu besar kepadaku, perasaan yang kurasakan sepertinya sama
dengan Elin.
Cahaya sinar matahari mulai menurun,
senja rupanya akan muncul. Beberapa plastik
yang kujajakan belum juga berkurang jumlahnya, sepertinya hari ini aku
tidak akan membawa uang cukup banyak kerumah. Aku menarik nafas panjang,
mengeluarkan handuk kecil dari saku celana menghapus keringat yang sedari tadi
bercucuran tiada henti. Sulitnya mencari uang ditengah kehidupan yang serba
mahal ini, biaya sekolah tak lagi murah, sembako tidak bisa dibeli dengan harga
rendah. Aku mendongakan kepalaku ke atas menatap langit yang masih sedikit
terlihat cerah, ada sudut hatiku yang lain mulai berbicara tentang diriku
sendiri. Aku memang anak pertama, dan suatu saat nanti aku akan menjadi
topangan hidup untuk Elin, aku adalah seorang kakak yang menurut Elin adalah
kakak yang baik, tapi seandainya Elin tahu betapa brandalnya aku ini ketika
diluar rumah, di sekolah aku tidak pernah datang tepat waktu, omelan-omelan
gurupun sudah tidak pernah aku dengar, setiap pelajaran tak jarang aku selalu
mengganggu temanku entah yang duduk di sampingku, di depan, di belakang, atau
dipojok. Sepulang sekolah aku selalu berkumpul dengan teman-temanku yang sama
brandalnya dengan diriku, berkumpul membentuk strategi untuk mengalahkan musuh.
Musuh sekolahku letaknya tidak jauh hanya beberapa kilometer dari sekolah. Ada
masalah ataupun tidak, aku dan teman-temanku tidak pernah memperdulikannya.
Kejadian beberapa bulan yang lalu, tentang kekalahan sekolahku melawan mereka
itu tidak bisa dilupakan begitu saja sampai ada beberapa teman seperjuanganku
yang terluka akibat kejadian itu, bukan cuman itu saja kejadian itu juga sudah
menjadi cukup bukti bahwa harga diri kami terenggut dan diinjak-injak oleh
mereka.
Saat aku sedang menikmati langit
luas di atas sana, menikmati secercah sinar yang perlahan-lahan mulai pudar
karena terenggut senja, tiba-tiba aku merasa ada yang melempar sesuatu yang
menyentuh kepalaku. Sebuah gulungan kertas, akupun menengok ke belakang,
mencoba mencari-cari siapa yang melempariku dengan gulungan kertas ini, mataku
menyapu seluruh area pasar ini, mencoba mencari sosok yang sedang ingin mencari
perkara denganku tapi ternyata nihil. Hanya orang yang masih sibuk berlalu
lalanglah yang aku tangkap dan beberapa penjual yang masih aktif menjual barang
dagangnnya. Gulungan kertas yang berada
di tanganku mulai menarik perhatianku, aku membuka gulungan kertas itu dan
ternyata di dalamnya ada sebuah tulisan, aku kira tulisan itu hanyalah tulisan
biasa, orang yang melempari gulungan itupun tidak sadar akan tulisan itu tapi
setelah sekian detik aku berpikir, aku rasa orang yang melempari gulungan
kertas ini sengaja menulis ini untukku, menggulungnya kemudian di lempar
kepadaku. Gulungan kertas ini memang ditujukan untukku.
‘Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sampai kapan
kau akan tetap menjadi orang dungu?! Berapa uang yang harus di habiskan kakekmu
untuk menyekolahkanmu? Tapi kau tetap dungu!!’
Aku
meremas-remas kertas itu usai membaca isinya. Batinku mulai bergejolak,
sepertinya ada orang yang ingin menyulut amarahku, aku melempar kertas itu
sampai tersungkur di lantai. Mataku mulai menatap tajam kesegala penjuru, berusaha
menemukan orang yang sedang ingin merasakan bogemanku. Kakiku terus kutuntun
menuju setiap sudut area pasar ini, tidak kupedulikan pedang-pedagang yang
sudah memulai menutup kiosnya atau para pembeli yang sudah mulai surut, yang
terpenting saat ini menemukan orang yang sengaja mengataiku “bodoh dan dungu”
sebelum dia merasakan bogem mentahku, aku tidak akan bergegas pulang.
Keesokan harinya aku tidak dapat berkonsentrasi
penuh, aku masih saja sibuk dengan semua prasangkaku tentang seorang yang
dengan beraninya menghinaku. Benar- benar tak bisa diberi ampun! Gerutuku dalam
hati. Mata pelajaran sejarah masih berlangsung, bu daryani guru sejarahku pun
masih berkicau di depan kelas memberi penjelasan panjang lebar mengenai sejarah
perkembangan kerajaan islam Indonesia. Sudah beberapa kali mulutku membuka dan
menutup merasakan kantuk yang luar biasa, buku tulis yang tergeletak di depanku
pun sudah penuh dengan coretan-coretanku, coretan yang menggambarkan
kekesalanku pada kejadian kemarin sore di pasar, seseorang yang menimpukku
dengan kertas gulung dan mengataiku “bodoh dan dungu” rasa penasaranku masih
mendomanasi. Entah dari mana pikiran itu datang, tiba-tiba terbesit salah satu
siswa dari musuh sekolahku ini yang bernama wahyudi, bukankah dia juga
berdagang di pasar yang sama denganku. Iya, mungkin Wahyudi.
Sepulang sekolah aku mengumpulkan
teman-teman seperjuanganku untuk merencanakan penyerangan ke musuh sekolah ini.
Aku menjelaskan panjang lebar, bahwa salah satu anak sekolah itu yang bernama Wahyudi
sudah mencari-cari perkara denganku, kemarin dia melempariku kertas gulung
tepat mendarat di kepalaku dan dia menghinaku dengan sebutan dungu dan bodoh.
Mendengar hal itu teman seperjuangnkupun mulai berapi-api untuk menyerang
sekolah itu.
“ Yang cari masalahkan
wahyudi,gimana kalau kita bantai saja wahyudi!” Tono memberi ide kepada kami.
Setelah berunding agak lama, akhirnya kami sepakat untuk member sedikit
pelajaran kepada Wahyudi.
Siang ini dimana panas mulai
menjalari tubuh kami, antara panas matahari dan panasnya hati. Aku bersama
teman- temanku mulai mengintai Wahyudi di sebrang jalan sekolahnya. Berharap
menemukan batang hidungnya diantara ratusan siswa yang mulai berhamburan keluar
gedung sekolah. Akhirnya aku dan teman- temanku menemukan sosok yang sedari
tadi kami cari. Salah seorang temanku yang sudah melepas seragamnya terlebih
dahulu dan menggantinya dengan kaos sudah siap dengan peranya untuk membawa
Wahyudi masuk kedalam perangkap kami. Kemudian salah satu temanku mulai
berjalan mendekati Wahyudi dan merangkulnya kemudian membawa Wahyudi ke gang
yang tak jauh dari sekolahnya. Setelah sampai di gang aku dan teman- temanku
yang lain mulai beraksi menyeret tubuh Wahyudi masuk kedalam gang. Seragam
sekolah yang sudah tertutup debu, dan badannya yang sudah mulai lemas tidak
menyurutkan niat kami untuk memberikan pelajaran kepada Wahyudi. Bertubi-tubi
bogem mentah di daratkan ke wajah dan tubuh Wahyudi, setetes darah mulai keluar
dari sudut bibir dan hidungnya, Wahyudi tersungkur tak berdaya, kini saatnya
giliranku memberikan bogem mentah terakhir untuknya. Aku mengepalkan tanganku
dengan kuat, dan mulai melayangkan tanganku ke wajah Wahyudi, bogem mentahku
ini mampu membuat wahyudi tersungkur kembali.
Semenjak
kejadian itu, dimana Wahyudi menjadi bulan-bulanan aku dan teman
seperjuanganku, sering kami di serang oleh musuh sekolah kami. Atas dasar
kesetiakawanan, kami pun menyerang balik mereka, kejadian saling serang ini,
sepertinya sudah menjadi pemandangan biasa yang akhir-akhir ini kami
pertontonkan kepada masyarakat sekitar tak jarang membuat mereka resah dan
akhirnya melaporkan aksi kebrutalan kami ke pihak berwajib. Sudah beberapa kali
juga kakek di panggil oleh pihak berwajib, kakek hanya di suruh mengawasiku
lebih baik supaya aksi kebrutalan ini tidak lagi terjadi.
Di
rumah, berulang kali aku mendengar kakek menasehatiku, entah kenapa nasihat
kakek tidak mampu menyentuh hatiku di pikiranku saat ini adalah bagaimana harga
diriku bisa ku rebut kembali, bukankah perkataan Wahyudi dengan mengataiku
“bodoh dan dungu” merupakan pelecahan? Yang mampu menginjak-injak harga diri
yang selama ini kubangun dengan susah payah. Berbicara tentang Wahyudi, setelah
peristiwa pengeroyokan itu aku tidak pernah melihat wahyudi di sekitar pasar,
bahkan kios yang biasa di jadikan tempat berdagangpun sudah tidak pernah terlihat.
Akh! Untuk apa aku memikirkan orang yang telah menginjak-injak harga diriku,
ini pikirku.
Untuk
menenangkan sedikit pikiranku, aku memutuskan tidak berdagang hari ini, aku
ingin menghabiskan banyak waktuku untuk bersantai, menghirup udara bandung yang
sudah sedikit terkontaminasi dengan asap-asap kendaraan.
“ Rokok sama kopi bu!” pintaku saat
aku tiba di warung favoritku di ujung gang tempat dimana menjadi saksi bisu kebrutalanku
membabi buta, menghajar Wahyudi tanpa ampun.
Tidak perlu menunggu terlalu lama, Bu Jejen datang membawa baki berisi
kopi putih dan beberapa gorengan juga sebatang rokok yang kupinta.
“ Gak pesen gorengan bu” kataku
mengambil sebatang rokok kemudian membakar ujung rokok itu dengan api dan menghisapnya.
Hanya sebatang rokok dan segelas kopi putih inilah yang sedikit mampu
menjernihkan pikiranku kembali.
“ Eh, di, ibu teh masih penasaran,
maneh teh pernah bilang ka ibu lain, aya hubunganna harga diri jeung
bala-bala” Bu Jejen memandangaiku dengan
tatapan penuh harap mendapat sambutan dariku. Aku memperhatikan wajah bu Jejen
di sampingku, masih terlihat ada sisa-sisa rasa penasaranya tentang kejailanku
waktu itu.
“ Dengerin ya bu, harga diri itu gak
boleh sama kaya bala- bala ini, itu artinya harga diri ibu gak boleh semurah
harga bala-bala ini” aku memberikan penjelasan singkat. Dalam hatipun aku
kurang yakin dengan apa yang barusan aku ucapkan.
“ Oh…kitunya, leres pisan lamun kitu
mah, harga diri teh kudu awis” ucap bu Jejen sambil beranjak pergi dari
hadapanku. Setelah puas menghabiskan sebatang rokok dan segelas kopi putih aku
langsung bergegas pergi menuju rumah. Tidak seperti biasanya rumah ini tampak
begitu sepi, tidak ku dengar tv yang menyala yang biasanya setiap sore kakek
selalu menghabiskan waktu di depan layar tv, sosok elinpun tidak aku temukan,
biasanya sore hari Elin selalu menghabiskan waktu membaca atau belajar di
kamar. Entah kemana kakek dan Elin
pergi, rumah jadi begitu sepi. aku menyalakan tv dan mengubah-ubah channel
mencari acara yang menarik mataku untuk menontonnya, tapi sepertinya acara sore
ini lebih didominasi dengan acara gossip murahan, tentang artis yang hobi
gonta-ganti pacar, pernikahan yang seumur jagung mengganggap pernikahan sama
dengan pacaran, dan pereseturuan yang kebanyakan dibuat-buat. Aku mengganti
channel ke acara selanjutnya, di acara lainnya sedang ramai diberitakan tentang
tawuran antar pelajar yang semakin marak terjadi dimana-mana. Aku tersenyum
kecil menyimak berita itu, seharusnya mereka paham dimana harga diri itu lebih
penting dibanding adu jotos yang sering di besar-besarkan. Aku mematikan TV dan
berjalan menuju kamar Elin, kamar adik kecilku ini selalu rapi, tidak pernah
sekalipun aku melihat kamar ini berantakan, beberapa tumpukan buku tertata rapi
di meja belajarnya, pandangan kupun beralih ke sebuah tas kecil berwarna merah
hati yang tergeletak di mejanya. Aku ingat saat Elin berulang tahun, tas itulah
yang aku berikan untuknya, saat itu Elin tidak mempunyai tas bagus untuk
dipakai kesekolah, banyak lubang-lubang kecil yang terlihat disetiap sudut
tasnya. Tas pemberianku itulah, meskipun tidak mahal tapi sangat berkesan untuk
Elin. Aku meraih tas itu, tiba-tiba ada sesuatu yang menyentuh kakiku, beberapa
gulungan kertas jatuh kelantai, aku mengerutkan kening, menatap heran,
tiba-tiba aku ingat gulungan kertas yang di lempar wahyudi yang mendarat pas di
atas kepalaku, gulungan kertas yang mampu menyulut amarahku, gulungan kertas
yang isinya menginjak-injak harga diriku. Aku memungut gulungan kertas itu dan
mencoba membuka isinya, aku tersentak kaget begitu mengetahui isinya sama
dengan isi dari kertas gulung yang beberapa lalu menyulutkan amarahku.
‘Bodoh! Bodoh! Bodoh! Sampai kapan
kau akan tetap menjadi orang dungu?! Berapa uang yang harus di habiskan kakekmu
untuk menyekolahkanmu? Tapi kau tetap dungu!!’
Tiba-tiba
ada sesuatu yang terasa sesak didada, seperti ada sebuah tombak yang menembus
jantungku. Apa mungkin Elin yang melakukannya? Belum sempat pikiranku berlari
jauh,entah sejak kapan datangnya Elin sudah berdiri di sampingku. Aku menatap
matanya dengan penuh keheranan, sepertinya Elin mengetahui arti tatapanku
padanya.
“ Maaf kak, itu Elin yang buat”
kata-kata yang tidak kuharapkan ternyata keluar dari mulutnya. Aku tersentak
kaget, tubuhku di buat kaku seketika, aku tidak
menyangka ternyata Elin lah yang melakukannya tapi tunggu dulu, aku
harus selidiki apa mungkin Elin juga yang melempar gulungan kertas ke kepalaku
saat di pasar beberapa waktu yang lalu.
“Termasuk melempar kertas kekepala
kakak di pasar?” tanyaku menyelidiki. Sesaat Elin terdiam, tiba-tiba setetes
air jatuh mengalir di pipi merahnya. Aku mencoba mencari-cari jawaban akan hal
itu, tak kutemukan dari tatapan matanya yang terus membidik ke arahku. Sebuah
anggukan pelan akhirnya menjadi jawaban.
Hatiku hancur berkeping-keping, teiris-iris halus sampai tak sanggup
lagi aku merasakannya, aku menghela nafas panjang, aku tidak menyangka Elinlah
yang membuat tulisan itu yang menurutku sangat menjatuhkan harga diri. Tentang Wahyudi?
Aku telah menuduhnya yang melakukan, atas dasar dialah orang yang berdagang di
satu tempat yang sama denganku. Aku menutup kedua wajahku dengan telapak
tangan, rasa penyesalan mulai menyelinap masuk dan menyesaki rongga dada.
Wahyudi yang ku tuduh itu, sudah menjadi korban aksi kebrutalan aku dan
teman-temanku tanpa pernah mau menyelidiki lebih jauh tentang tuduhanku, kami
main hakim sendiri tidak peduli tuduhan yang kami tunjukan itu benar atau
tidak.
“ Kak!” Elin memanggilku, aku
menatapnya kembali. Sekilas aku melihat rasa penyesalanpun hadir di hati Elin.
“ Tadi, kakek dan Elin habis
menghadiri pemakaman Kak Yudi, apakah kakak kenal?” Elin bertanya dengan mata
berbinar. Aku mengangguk kepala cepat
“ Wahyudi, katanya dia juga dagang
di pasar, tadi Elin dan kakek baru pulang dari pemakaman Kak Yudi” jawaban Elin
langsung meremas-remas jantungku. Tuhan! Wahyudi meninggal! Apa ini karena
ulahku? Wahyudi tidak bersalah, aku lah yang terlalu gegabah! Dengan
mengatasnamakan harga diri aku main hakim sendiri. Tidak pernah mau mendengar
penjelasan orang yang kutuduh itu. Tuhan, dosaku besar! Apa mungkin kejadian
ini akan menyeretku ke balik jeruji besi, pikiranku semakin kalut terus
bertanya dan menyalahkan diri sendiri.
“ Bukan salah kakak, Kak Yudi
meninggal karena sakit jantung, dari kecil kata ibunya, Kak Yudi sudah
menderita penyakit jantung bawaan” Elin sepertinya sudah tahu isi hatiku,
kata-katanya mampu membuatku sedikit tenang. Bukan salahku? Apa Elin tahu kasus
pengeroyokan itu? Pikirku. Elin mulai menceritakan panjang lebar, orang tua Wahyudi
sudah mengetahui anaknya korban pengeroyokan, dan aku lah salah satu tersangka
pengeroyokan itu, awalnya orang tua Wahyudi sangat marah dengan hal tersebut,
sore hari beberapa waktu yang lalu, orang tua Wahyudi datang ke rumah dan
langsung memaki-maki kakek. Elin yang tengah belajar mendengar kegaduhan di
depan langsung beranjak pergi dari kamar. Orang tua Wahyudi meminta pertanggung
jawaban, bahkan sempat akan melaporkan aku ke polisi atas kasus penganiayaan.
Tapi sebelum niat itu terlaksana, Wahyudi melarang, dia tidak ingin kasus ini
semakin besar, bukanlah karena takut, tapi Wahyudi tahu bahwa jika kasus ini
terus melebar dan menguak ke permukaan bukan hanya sebagian siswa yang akan
saling menyerang satu sama lain, tapi bisa jadi seisi sekolahpun akan saling
serang satu sama lain. Niat diurungkan, kondisi Wahyudi semakin hari semakin
parah, sepertinya ada bogem mentah yang didaratkan tepat di dekat jantungnya,
sampai membuat keadaan jantungnya tidak stabil, kondisi Wahyudi saat di periksa
ke dokter dengan menggunakan EKG pun terlihat buruk, untuk itu Wahyudi sangat
dianjurkan untuk mengurangi aktifitas dan isitirahat total dirumah. Tapi pada
akhirnya benar saja anjuran dokter itu, Wahyudi bukan saja istirahat total di
rumah tapi juga istirahat total dari bengisnya dunia.
Lututku mendadak lemas, mulutpun
berubah kelu, air mata yang selama ini tidak pernah aku keluarkan karena harga
diripun kini melebur, aku tidak menyangka orang yang sudah aku tuduh
macam-macam tanpa bukti masih mau membelaku di depan orang tuanya, di saat
orang tuanya hampir menyeretku masuk ke jeruji besi. Tuhan! Ampuni aku. Aku
berlutut dan tersungkur di lantai, menangis sejadi-jadinya, kali ini aku sama
sekali tidak ingin memikirkan harga diri, atas nama harga diri yang salah aku
tafsirkan mampu menghilangkan nyawa orang begitu saja. Sekarang bagiku, Wahyudi
adalah seorang sepuh, bukan karena umurnya yang menginjak senja, bukan, Wahyudi
masih terlalu muda, tapi karena dia
mampu menjadi cerminan untukku supaya tidak salah lagi menafsiran sebuah harga
diri hanya sebatas isi surat yang terdengar mencela, tapi harga diri itu justru
ada ketika kita mampu mempertahankan sesuatu hal yang memang menjadi prinsip
kita, cara Wahyudi yang tidak membalas perbuatanku pun, sudah bisa menjadi
panutan untukku agar segala jenis kejahatan tidak mudah mengendap menjadi
dendam yang menyuluh kobaran api dan dapat membakar apa saja didekatnya sehingga
menimbulkan banyak korban berjatuhan. Wahyudi sepuhku, panutanku, patokanku
untuk lebih bijak bertindak, demi sepuhku, aku akan berusaha mengoreksi harga
diri yang aku tafsir dan mempertahankan sebuah harga diri dengan cara yang
lebih mulia.
TAMAT




25%