Janji Senja
Oleh: Desi Sommalia
Gustina
Senja. Merupakan sebuah nama yang tak pernah aku tahu wajahnya. Ia adalah
lelaki yang selalu diceritakan Ibu. Kata Ibu lelaki itu adalah Ayahku.
Berpuluh-puluh macam cerita tentang kebaikan Ayah ke luar dari mulut Ibu.
Cerita yang selalu menjadi pengantar tidurku.
“Ayahmu adalah lelaki pemberani,” kata Ibu pada suatu malam.
Aku mendengarkan kisah tentang keberanian Ayah dengan takjub.
Saat masih kanak-kanak, dalam benakku Ayah hadir sebagai sosok kesatria,
jagoan, seperti di film-film yang sering kutonton yang rata-rata berkisah
tentang sosok pahlawan. Aku selalu berharap Ayah datang setiap aku berulang
tahun sambil membawa kue tart sembari mengecup keningku. Namun, sampai aku
beranjak dewasa Ayah tak pernah datang. Kemudian harapan itu perlahan-lahan
hilang.
Saat aku melepaskan seragam merah putihku aku meminta pada Ibu agar tak lagi
bercerita tentang Ayah ketika aku akan tidur.
“Kenapa?” tanya Ibu.
“Karena Ayah tak pernah datang,” kataku sambil memandang langit-langit kamar.
“Ayahmu berjanji akan datang saat senja.”
“Sudah tak berbilang jumlah senja yang kita lalui, namun Ayah tak kunjung
datang.”
“Ayahmu lelaki yang baik. Ia akan datang menepati janjinya.”
“Kenapa ayah menjanjikan datang saat senja? Kenapa tidak pagi atau siang?” aku
terus mencecar Ibu.
“Karena senja bukan akhir, ia permulaan sebuah hari.”
Aku tak mengerti maksud perkataan Ibu.
***
Pada senja yang sepoi aku kembali mendapati Ibu duduk di teras rumah dengan
sejuta harap yang terpancar dari sorot matanya. Aku memandang Ibu dari jauh.
Kuurungkan niat duduk di sampingnya. Namun, saat akan masuk ke dalam rumah Ibu
memanggilku.
“Duduklah di sini,” Ibu melambaikan tangan padaku.
Aku berbalik. Mendekati Ibu. Kutarik kursi di samping Ibu.
Hening sesaat. Sesekali telingaku menangkap hembusan nafas Ibu.
“Tidak rindukah kau pada Ayah?” tanya Ibu tiba-tiba.
“Rindu. Tapi dulu. Sekarang tidak lagi.”
Ibu memandang tajam padaku, “Kenapa?”
Tak ada jawaban lidah. Aku membuang pandang dari tatapan ibu. “Karena aku tak
lagi menganggap Senja sebagai Ayahku, bagiku dia hanya lelaki yang hanya
menitipkan sperma pada Ibu,” sahutku, tapi hanya kuucapkan dalam hati.
“Kau tak yakin Ayahmu akan datang?” Ibu mengejarku.
“Maaf Ibu, aku bahkan tak yakin Ayah masih ingat pada kita,” kataku
takut-takut. Ada yang menggeliat di ulu hatiku. Entah apa namanya.
Mata Ibu melotot. “Kau tak akan bicara begitu saat kau dapati Ayahmu datang
kala senja,” suara Ibu parau.
Aku menatap bola mata Ibu. Pandangan kami bertemu, sorot mata perempuan itu
sekarang basah.
“Aku tak bermaksud menyakiti perasaan Ibu,” kataku.
Ibu tak menolehku. “Tinggalkan Ibu sendiri,” pintanya sembari mengusap mata
basahnya.
Dengan
langkah berat kutinggalkan beranda. Masuk ke dalam rumah.
***
Berbilang tahun sudah lewat. Aku sudah tak lagi tinggal bersama Ibu. Aku
menetap di kota lain bekerja pada sebuah perusahaan. Ibu menolak ketika kuajak
tinggal bersamaku.
“Ibu ingin menunggu Ayahmu di rumah ini setiap senja,” tolak Ibu ketika untuk
kesekin kalinya aku membujuk Ibu tinggal serumah denganku.
“Dimanapun itu kita akan menikmati senja yang sama,” sahutku.
Ibu menarik ujung bibirnya, membentuk sebuah senyum. Tapi mulutnya tak
mengeluarkan suara.
“Ibu bisa menikmati senja bersamaku,” bujukku tanpa putus asa.
“Ibu hanya ingin menunggu Ayahmu di sini. Di rumah ini,” keras hati Ibu.
Akhirnya aku berangkat sendiri setelah tak berhasil membujuk Ibu. Sekali enam
bulan aku pulang kampung menjenguk Ibu. Ibu masih seperti dulu. Menanti
kehadiran Ayah saat senja. Kasihan Ibu. Penantian yang tak tahu ujungnya. Ibu
perempuan setia. Masih menunggu Ayah meski tak ada kabar. Aku pernah
menganjurkan agar Ibu mencari pengganti Ayah. Ibu marah besar kala itu. Ibu
langsung berdiri di depanku, dan dengan suara yang keras menembus gendang
telingaku Ibu membentak.
“Pakai otak!” katanya dengan suara meninggi.
Aku memandang Ibu tidak percaya.
Ibu melangkah, melewatiku, masuk ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Sehari
semalam Ibu tidak keluar kamar. Aku menunggu Ibu keluar dengan perasaan
takut-takut.
Dalam menunggu itu aku melihat Ibu berdiri di depan pintu dengan tatapan yang
tak bisa kuartikan. Kudekati Ibu.
“Ibu, maafkan aku,” kataku sembari memeluk tubuhnya.
Aku merasakan perlahan-lahan tangan Ibu melingkar di badanku. Ibu mengeratkan
dekapannya. Kemudian tangan kanannya mengangkat wajahku.
“Ayah terlalu bersih. Ibu tidak mungkin menggantikannya dengan orang lain,”
ucapnya.
Mendengar perkataan Ibu kristal bening mengalir di pipiku.
“Jangan lagi berpikir untuk mencari orang lain sebagai pengganti Ayah untuk
Ibu. Karena Ibu yakin Ayahmu akan datang pada suatu senja,” pintanya.
Aku mengangguk. Sejak itu aku tak pernah lagi menyinggung tentang kehadiran
lelaki lain untuk Ibu.
***
Setelah
berbilang bulan tak pulang, hari ini aku pulang menjenguk Ibu, sekaligus
berniat meminta restu.
“Ibu, sekarang aku tak remaja lagi,” aku membuka pembicaraan.
“Lalu?” potong Ibu.
“Aku ingin menikah,” aku sengaja menggantungkan kalimat berharap Ibu
menanggapi.
“Sudah ada calon?” tanya Ibu datar.
“Ya. Kami sudah lama saling kenal,” kataku hati-hati.
Ibu tak menyahut.
“Mohon restu dari Ibu,” lanjutku.
Diam yang dominan.
Aku
memainkan ujung jilbabku.
“Tapi kau juga harus minta restu pada Senja, Ayahmu,” Ibu berkata tiba-tiba.
Aku melongo dengan ekspresi tak paham.
“Tinggallah beberapa waktu di sini. Ayahmu pasti datang,” yakin Ibu.
Aku mengikuti saran Ibu. Namun, berminggu-minggu senja itu lewat. Dan Ayah tak
pernah datang menenuhi janjinya.
Masa
cutiku sudah usai. Aku kembali ke kota tanpa mengantongi restu Ibu tentang
pernikahanku. Saat akan meninggalkan rumah aku melihat Ibu masih menunggu
Senja.***




25%