Aku pergi. Maaf harus menyebutkan kata 'pergi'.
Kita sepakat untuk menghapusnya dalam persekutuan kita. Selama
bertahun-tahun, kau aku hidup tanpa sekali pun mengucapkannya. Bagi
kita, pergi adalah mati. Pergi adalah untuk tiada pernah kembali, yang
itu artinya menyakiti dan tersakiti hingga mati. Maaf. Akhirnya aku tak
sekadar mengucapkannya. Aku benar-benar pergi. Aku tak akan minta
pengampunanmu karena kepergian yang kuputuskan. Cinta tak butuh
pengampunan, bukan? Kau yang mengajariku begitu!Sebelum pada akhirnya benar-benar memutuskan beranjak dan tiada lagi menoleh ke belakang, ke istana kecil yang kita bangun jauh di dalam hutan, jauh di luar peradaban, jauh dari segala hal yang mengekang dan melarang, sebelum semua itu, aku telah berpuluh-puluh malam merenungimu. Aku rupanya telah sangat lama kehilanganmu. Aku lupa kapan terakhir kalinya aku benar-benar memilikimu.
Kau kata, cermin jiwa adalah mata. Setiap pagi, aku akan menemukan jiwamu lewat sorot mata yang sudah biasa kutatap lekat-lekat. Jiwa yang berkuasa atas segenap aku dan diriku. Entah pagi keseribu berapa dalam pelarian, aku telah kehilangan jiwa yang biasa kutemukan dalam matamu. Saat ini, sebelum benar-benar mengatakan pergi, aku barulah menyadari; aku sudah kehilanganmu sejak saat itu. Kau tahu, untuk apa aku membersamai bila tiada lagi jiwa dalam matamu? Buat apa kau dan aku tetap setia bersisian bila sesuatu telah hilang dari dirimu, sesuatu yang oh bagaimana kau menyebutnya; kepercayaan? Entahlah! Apa pun itu, aku telah pergi. Jauh sebelum kau benar-benar menyadari telah kehilangan sesuatu yang berharga dalam matamu.[YS]



25%