Aku bahagia menanti. Bisa menungguimu
dalam penantian bagiku hal yang membahagiakan. Sebab kedatanganmu bukanlah hal
yang mustahil, bukan? Karena itulah, aku dengan perasaan berbunga-bunga
senantiasa menantimu kembali.
Dalam penantian, aku belajar banyak hal,
terutama belajar memercayai. Penantian bukan hanya perihal bersetia, yang
paling penting dan di atas segalanya adalah memercayai. Percaya bahwa yang
dinanti akan kembali. Aku percaya dengan segenap jiwa bahwa kau tak akan
membelot ke jalan lain dan memutuskan tak datang lagi. Toh semua yang pergi
pada akhirnya akan kembali. Katamu, akulah jalan kembali bagi setiap langkah
pergi. Aku yakin hal itu. Yakin bukan karena itu adalah katamu. Aku yakin
karena diriku sendiri. Sepenuhnya yakin. Sebenar-benarnya percaya.
Usah kau berpikir aku dalam menantimu
semisal pesakitan yang tengah nelangsa menanti hari ajal. Tidak, Sayang. Aku
baik-baik saja. Aku bahagia. Asal kau kembalilah. Aih, apakah aku terkesan
meragu? Tidak! Tidak sama sekali. Aku sepenuhnya percaya, dengan cara apa pun
Tuhan akan mengembalikanmu; entah itu utuh jasad, ruh, dan jiwamu, atau hanya
jasadmu saja, atau (semoga saja tidak) hanya kabar yang bertandang bahwa kau
tiada akan pernah kembali lagi. Bagaimanapun jua, dalam penantian, skenario
terburuk adalah yang sering membayang-bayangi diri seberapa kuat pun aku
memercayai.[YS]




25%