Cerpen Aya Zahra Phaluphie
Di sinilah Imas berdiri. Menatap laut
lepas dengan ombak yang sesekali datang menciumi bibir pantai. Ada dua perahu
bersandar tak jauh darinya. Imas masih terpatung di sini. Dengan mata berkaca
yang perlahan jatuh bulir airnya.
***
Senin pagi. Amak sudah sibuk benar
mempersiapkan perlengkapan sekolah Imas. Imas sendiri juga sibuk mencari-cari
lampu senter besar yang biasa dilingkarkannya di kepala.
“Cepat Imas. Nanti terlambat!” Amak
mencercau lagi. Kali ini nada suaranya meninggi.
Duh! Dimana pula ia meletakkan lampu
senter itu semalam. Semalam, habis menunaikan hajatnya di laut, Imas lupa
menaruh lampu senter itu kembali ke tempatnya.
“Ketemu!” Imas berseru. Lampu senter
itu berjejal di antara tumpukan jaring Abah. Entah kenapa bisa tersangkut di
sana.
“Imas. Cepat!” Amak meneriakinya lagi.
Imas bersunggut menuju pintu sembari mengikat tali sepatu.
***
Imas suka laut di pagi hari. Amat suka
malah. Semburat mentari kemerahan yang baru bangun beradu dengan angin laut
yang sejuk. Pagi-pagi sekali ia akan keluar rumah lalu merendamkan kakinya di
bibir pantai untuk sekedar menggali lubang cacing laut atau lomba lari
sepanjang pantai dengan Astrid. Biasanya, kak Jemi, kakak Astrid akan membuat
garis panjang di pasir dari ranting sebagai garis start sekaligus garis finish
lomba lari mereka. Tapi tidak pagi ini. Ini senin pagi. Bangun pagi-pagi dengan
seragam sekolah rapi untuk segera naik perahu Ang Sandi. Perahu yang akan
mengantarnya berlayar. Berlayar? Ya, sekolah Imas berada di seberang pulau.
Jaraknya dua jam dari tempat tinggal Imas, Pulau ini. Pulau Tegal. Imas sekolah
di Pahawang.
Pergi sekolah di senin bagi juga
berarti pergi selama sepekan. Begitulah kira-kira. Imas tidak mungkin
pulang-pergi setiap hari. Terlalu beresiko kata amak. Gelombang tinggi, laut
yang tak bisa di prediksi. Ya, Imas pernah gagal pulang karena angin dan ombak
besar yang menghantam cadas. Beruntung Imas belum sempat naik ke perahu Ang
Sandi. Maka ambil amannya, ketika Imas sekolah di Pahawang, sama artinya Imas
tinggal dengan Nekyang, Ibu Amak. Imas senang tinggal dengan Nekyang. Banyak
makanan. Hanya saja tak ada Astrid, Nisa, atau Ongki yang bisa diajaknya bermain
atau berlomba mencari kerang-kerang di tumpukan pasir pantai.
***
“Amak hanya ingin kau mendapat
pendidikan yang layak,” Begitu terus yang dikatakan amak saban Imas bertanya
kenapa ia mesti jauh-jauh ke Pahawang untuk sekolah. Sementara di pulau Tegal
sebenarnya terdapat madrasah yang jaraknya hanya dua atau tiga puluh langkah
dari rumahnya.
“Madrasah itu tanpa guru.” Kata amak
lagi. Tangan amak lincah menganyam jaring untuk Abah melaut petang nanti.
“Tapi nanti ada kakak-kakak yang
datang, Mak. Mereka membawa banyak buku, mainan, krayon...” sanggah Imas. Itu
awal mula ketika Imas harus sekolah di Pahawang. Jawaban yang sama Imas
lontarkan ketika Amak ‘memaksanya’ untuk sekolah di Pahawang. Sekolah di
Pahawang berarti terpisah jauh dari Amak, Abah, Astrid, Ongki, dan semua yang
indah di pulau Tegal.
“Tapi tak tentu. Mereka datangnya
tak tentu.” Mata amak membulat. Membuat Imas menunduk.
“Imas,” Amak membelai rambutnya
lembut.
“Amak tak mau Imas seperti Amak,”
suara amak parau. Tersendat di akhir kalimatnya.
“Amak lahir di pulau ini, besar di
sini, Amak tidak punya pendidikan. Amak tak ingin Imas mengalami nasib seperti
Amak...” bobol sudah pertahanan itu. Ruah bulir-bulir mambasahi pelupuk hingga
pipi amak.
“Karena tanpa pendidikan, manusia
tidak akan mempunyai harga diri.” Lanjut Amak tersedu. Pipinya basah. Namun
masih tersenyum membelai rambut pirang Imas.
“Imas, kalau mau berhasil, mau
menggapai cita-cita harus rajin sekolah. Punya pendidikan.” Amak menyeka sudut
matanya yang basah.
“Imas nggak mau sekolah.” Imas
menatap Amak lekat.
“Imas nggak mau jauh dari Amak...”
lanjutnya. Bibir Imas manyun redup sempurna. Persis bak pelangi kekurangan
warna.
“Kalau Imas nggak mau sekolah, lebih
baik amak mati. Amak malu punya anak nggak punya pendidikan.” Amak mengacungkan
telunjuknya di depan wajah Imas.
“Berjanjilah
Imas akan menjadi wanita karang. Tak peduli sekuat apapun ombak menghempas, ia
tetap kokoh. Gigih seperti itulah kau mencari ilmu.” Amak mengusap rambut Imas
lagi. Imas mengangguk. Memeluk Amak erat. Sungguh, ia tak mau kehilangan amak
lantaran ia tak sekolah. Maka semenjak hari itu, Imas berikrar akan menjadi
anak yang rajin dan membanggakan Amak.
***
Imas di sini. Jilbab lebarnya
dimainkan angin sedari tadi. Potongan-potongan kenangan itu muncul sekelebat
setiap ia melempar pandang ke hamparan laut lepas. Ia bersyukur. Amat sangat
bersyukur. Lepas percakapan dengan amak malam itu, tekatnya bulat. Ia akan
berhasil dan kembali untuk membangun pulau Tegal, pulau kelahirannya itu lebih
baik.
“Imas,” seseorang menepuk bahunya.
Menyadarkannya dari pikiran yang menggelandang ke masa lampau.
“Sudah di tunggu. Ayo.” Nisa,
temannya dari rombongan pengajar yang ikut berbagi di Pulau Tegal, tersenyum
menanti Imas beranjak dari tempatnya mematung.
Imas menyeka matanya yang basah. Dengan
wajah yang terduduk dan senyum malu-malu, ia berjalan sejajar mengikuti Nisa ke
madrasah. Tempat dimana yang lain sudah menunggu mereka.
***
Usia Imas sudah hampir lima belas.
Ia sudah kelas satu madrasah aliyah sekarang. Pikirannya tumbuh lebih dewasa
dari usianya. Kain tapis sudah melintang dari bahu hingga pinggangnya. Imas
mengajar anak-anak putri menari Bedana, tari tradisonal yang biasanya
disungguhkan saat pesta adat, pernikahan, atau acara besar lainnya. Musik
tabuhan gendang dan petikan senar mengalun merdu mengiringi lenggokan badan
kecilnya sementara anak-anak pulau tegal lainnya mengikutinya menarikan tari
Bedana. Hentakan kaki di pasir yang beriring dengan hitungan 1,2,3,
lengkung—gerakan berputar dengan satu tangan ditekuk di dada dan yang lain
melengkung sejajar bahu. Berkali-kali. Berulang-ulang. Berganti kiri-kanan.
Belum lagi tangan yang berputar mengikuti irama. Bagi Imas, adat budaya mejadi
hal penting untuk anak-anak pulau tegal ketahui. Supaya kelak mereka ingat dan
menghormati tanah leluhur, tempat mereka berpijak kini.
Janji
itu dituaikannya seperti hari ini. Bersama rombongan teman-teman gerakan peduli
pendidikan, mereka membagikan tas, seragam, dan sepatu sekolah untuk anak-anak
pulau Tegal. Tunas harapan pulau Tegal.
Imas memandang bangunan itu nanar.
Madrasah itu. Meskipun sudah berdiri kokoh, masih saja tanpa guru. Satu persatu
murid berhenti sekolah. Lebih memilih membantu ayah mereka mengail ikan di laut.
Imas menghela nafas panjang. Pulau kelahirannya ini tak terlampau besar. Hanya
ada satu RT dengan tiga puluh satu kepala keluarga kini. Lingkupnya lebih kecil
dari dusun. Mayoritas penduduknya perantau dan berkerja sebagai nelayan. Hanya
satu yang tak berubah, meski dekat dengan kota kecamatan, segala keterbatasan
di pulau tegal masih luput dari perhatian aparat pemerintah. Pulau Tegal masih
gelap kala malam. Tanpa lampu. Listrik di dapat dari panel surya atau aki
warga.
Namun tidak hari ini. Anak-anak pulau
Tegal sudah rapi berbaris untuk upacara bendera. Imas memandang bendera merah
putih yang berkibar di atas tongkat kayu di hadapannya. Nyanyian berkibarlah
benderaku menggema ke seluruh pulau. Imas tersenyum, menyeka sudut matanya yang
berair. Merah Putih di ujung senja.
Sang
merah putih yang perwira
Berkibarlah slama-lamanya
Kudedikasikan untuk tim @1000_guru saat Teaching and
Traveling ke Pulau Tegal, Lampung J
Tentang penulis
Aya Zahra Phaluphie adalah nama pena. Mahasiswi hobi bersyair yang
ingin jadi penyiar. Sesekali keluar malam menikmati lampu jalanan kota.
Beralamat di Jl. DI Panjaitan Gg.Lama No.756 Rt.09 Rw.03 Plaju, Palembang 30266.
Bisa dihubungi via ayaphaluphie@gmail.com atau twitter @rra_claraika. Ponsel
0852-66024394 Fb: www.facebook.com/aya.phaluphie





25%