Kau tentu punya ingin yang serupa denganku.
Telah lama kita begitu; saling mengimpikan hal yang sama. Aku ingin
menyaksikan masing-masing dari kita bertumbuh, hari demi hari. Seperti
katamu, mari mendewasa bersama. Seperti kataku, mari saling menyaksikan
kau dan aku menua. Lantas, kita akan saling tertawa.
Dari teras
rumah, kita akan mengamati waktu demi waktu, hari demi hari, kota
berubah, orang-orang berubah, kita berubah. Tetaplah saling bersisian
untuk menyaksikan segalanya setahap demi
setahap berubah, katamu. Aku akan manut. Aku ingin bertumbuh di sisimu,
semisal kau pun ingin bertumbuh di sampingku. Begitu saja aku sudah
bahagia. Tidak butuh sesuatu apa pun lagi. Selama kita masih bersisian,
segala yang mustahil akan menjadi mungkin, segala yang berat akan jadi
ringan, segala yang sulit akan jadi mudah. Itu yakinmu, jua yakinku.
Kau (yang membaca ini) yakinlah pada dirimu sebab di dalamnya akan ada yakin pada Tuhanmu; kau kelak akan dipertemukan dengan seseorang yang satu sama lain dengan sepenuh hati punya keinginan untuk menyaksikan masing-masing bertumbuh, mendewasa, dan menua. Bersama. Segalanya mungkin bagi Tuhan bukan? Maka kau yakinlah! Selamat menunggu seseorang yang benar-benar Tuhan takdirkan kau untuknya dan ia untukmu. Selamat bertumbuh bersama, selamat mendewasa berdua, selamat setia hingga menua. Selamat[YS]




25%