Cerpen ALIZAR TANJUNG
Misbah merasa hidupnya masih seputar
pintu, dapur, sebidang tanah, dan kandang sapi lengkap sapi jantan Bapak. Dia
mengeratkan ikatan kain sarung. Dia lilitkan dua kali lilitan kain sarung di
pinggang. Kemudian mengambil sabit yang menancap di dinding dapur anyaman
manau. Rajut yang tergantung di langit-langit dapur yang penuh arang.
Telinganya memerah. Panas kupingnya mendengar jawaban Bapak yang lagi-lagi
melarang dia merantau.
Dia ingin sekali merantau. Terserah
ke mana saja. Hal terpenting diizinkan merantau oleh Bapak dan Ibuk. Asal yang
namanya merantau. Sudah senang hati dia. Soal di rantau menjadi gelandangan
lampu merah, pengamen dari pintu kopaja ke pintu kopaja berikutnya, ngelem dari persimpangan ke persimpangan
berikutnya, pedagang asongan di kota besar, itu urusan nanti. Dia ingin
merantau. Pokoknya merantau. Titik. Toh rantau tidak sekejam yang
dibayang-bayangkan teman-temannya yang sudah kembali di rantau. Kalau ada
teman-teman yang memang tidak sukses di rantau, tak lain dan tak bukan, karena
memang dasar temannya saja yang tidak becus kerja. Kalau ada sedikit untung di
rantau buat pembeli telepon pintar, komunikasi juga lebih gampang.
Sedikit-sedikit dapat mengirim foto lewat WA. Sediki-sedikit dapat komunikasi
lewat video melalui line.
“Urungkan niatmu menyabit rumput
gajah. Perasaanmu lagi sedang tidak tenang,” ujar Bapak menegur Misbah yang
melewati ruang tamu dari dapur. Dia memanggil Misbah untuk duduk bersama
dirinya di ruang tengah. Duduk sembari bersila. Bapak memelintir nipah.
“Begitu cepat Bapak menangkap
perubahanku,” ujar Misbah. Dengan telinga yang masih panas dia menuruti kemauan
Bapak. Misbah duduk berhadap-hadapan bersama Bapak. Hanya berpisahkan sepiring
goreng ubi jalar di antara mereka. Dan satu gelas kopi pahit.
“Orang tua itu arif, bijaksana,”
ujar Bapak. Bapak memelintir kumisnya. Sehingga ujung-ujungnya naik ke atas.
memiring kepala. Bicara tanpa melihat Misbah. “Nantik kalau kau sudah tua, kau
akan mengerti. Apa yang aku lakukan adalah benar.”
“Benar menurut kehendak Bapak!”
“Benar menurut hati kecil kita yang
paling murni,” ujar Bapak. Suara Bapak tetap setenang suara ketika dia dalam
keadaan bahagia. “Kau sudah dewasa, tetapi terkadang masih saja serupa anak
kecil yang hari kemarin masih merengek-rengek naik ke pundak Bapak.”
Suara Bapak yang tenang begitu
menakutkan bagi Misbah. Ketenangan yang menjadi sumber kekuatan mengerikan bagi
Misbah. Suara itu mengungkung Misbah.
“Apa yang Bapak inginkan dari diri
saya?” Seumur hidup tidak pernah Misbah sekasar ini bicara dengan Bapak. Sudah
Misbah tahan suaranya agar tidak meninggi. Tetapi tetap saja suaranya meninggi.
Dan suara itu lepas juga kepada Bapak setelah dia tahan-tahan semenjak dia
mengikat sapi jantan Bapak di gurun di depan rumah.
“Tepatnya apa yang kamu inginkan
terhadap dirimu sendiri!” ujar Bapak menjawab dengan tenang. Mata Bapak
terangkat. Sorot mata Bapak menatap pupil mata Misbah. Sorot mata itu tenang.
Sorot mata itu memandang dalam-dalam ke sorot mata Misbah.
“Aku ingin merantau mencari
perasaian hidup?” Misbah duduk tegang di depan Bapak. Urat-urat lehernya
menegang.
“Perasaian hidup yang bagaimana yang
kamu inginkan?” Bapak melentikkan abu nipah ke piring alas cangkir kopinya.
Kemudian menarik tepian kain sarung menutupi pundaknya. Kain sarung itu hampir
menutup setengah rambutnya yang cepak-cepak keputihan.
“Aku ingin mengalir dalam darahku
darah perantau, bukan darah anak kampung yang jalannya hanya selingkaran rumah
induknya.” Suara Misbah semakin meninggi.
“Apa yang kamu ketahui tentang
rantau?”
“Pergi mengadu nasib di negeri
orang.” Suara Misbah mulai menurun.
“Terlalu mudah kau menyimpulkan
tentang rantau wahai anakku. Tidakkah kau tahu rantau itu adalah soal
menundukkan dirimu sendiri dari kebuasan yang bergelora dalam diri setiap anak
Adam.”
“Karena itu aku ingin merantau, biar
aku lebih mengenali diriku sendiri.”
Rantau bukan hanya sebatas keinginan
wahai anakku. Rantau soal bagaimana engkau merenungi jalan yang kau pilih.
Rantau soal langkah pertama dan langkah terakhir yang saling bertemu. Rantau
soal seberapa kuat menjadi dirimu sendiri. Aih, tidak dikatakan kata-kata
demikian oleh Bapak ke Misbah. Orang lagi marah, tidak terkontrol dirinya,
begitulah kepercayaan diri tua Bapak.
“Kau merantau karena orang lain juga
merantau. Sangat tidak bertanggungjawab,” ujar Bapak. Suara Bapak, pelan sorot
mata Bapak Tajam. Sapi di luar dengan lahap memakan sisa-sisa rumput ilalang
muda kemarin.
“Buatkan kopi untuk anak bujangmu
ini, Gadih,” ujar Bapak meneriakkan ke dapur. Kemudian Bapak melanjutkan cerita
bersama Misbah.
“Seperti itukah pendirianmu,
Misbah.”
Misbah tidak menjawab. Dia tahu
Bapak sedang menasihatinya. Nasihat yang bercampur kemarahan. Seperti halnya
dirinya tidak pernah Bapak berbicara sebegitu lantangnya kepada dirinya. Baru
sekali ini. Nyali Misbah menciut.
“Apa yang kamu tentang dari hidupmu
di kampung ini?”
“Tak lebih sebagai anak muda yang
menyabit rumput saban pagi dan petang hari.” Pagi-pagi berangkat menyabit
rumput ke Rawang, terkadang ke Ruangsudu, terkadang ke Buahpuncak, terkadang ke
Kapalotabek. Siang ke ladang. Sore menyabit rumput lagi. Setelah itu bersenda gurau
di warung, bermain domino, sembari menunggu malam hari. Malam mengaji. Setelah
itu tidur bersama teman-teman sembari bercerita tentang begitu indahnya pasar
kain di pasar Bukitsileh di hari Jum’at dengan para pacar. Aih, membosankan
rutinitas itu bagi Misbah.
Teman-teman sebayanya sudah
merantau. Dia saja yang belum. Apa kata teman-temannya nantik? Aku masih mengEkor
indukku. Malu Misbah dengan kata hati kecilnya itu.
“Kau terlalu dangkal dalam
menyimpulkan apa yang kamu jalani selama ini. Hidup bukanlah sebatas apa yang
terlihat. Seperti halnya rantau mengkaji apa yang tersembunyi, anakku.
Percayalah apa yang kamu butuhkan ada di sekelilingmu. Tergantung bagaimana
kamu merenungi dirimu sendiri.”
Bapak meneguk kopi. Ibuk
menghidangkan secangkir Kopi. Dia tidak ingin mencampuri urusan laki dan
anaknya itu. Dia buru-buru kembali ke dapur. Melanjutkan pekerjaan memasak
gulai kentang campur ikan teri.
“Sabit yang kau bawa saban hari
bukanlah sekedar sabit wahai anakku. Ini persoalan bagaimana engkau
mengendalikan mata sabit yang tajam, tentang bagaimana engkau melihat kehidupan
dengan cara yang amat berbeda.”
“Terlalu rumit bagiku untuk mengerti,
Pak.”
“Kerumitan hanya ada dalam kepala.
Lihatlah sesuatu itu dengan cara yang berbeda, niscaya yang kamu anggap rumit
itu adalah mudah. Kau mengendalikan mata sabitmu dengan amat baik, tentu
harusnya juga mudah bagi dirimu mengendalikan dirimu sendiri, anakku.”
Misbah menyentuh mata sabitnya.
Kemudian meletakkan di atas rajut. Dia sama sekali tidak mengerti dengan
perkataan Bapaknya.
“Bagaimana mungkin itu mudah bagiku,
Pak?”
“Sabitmu selama ini sudah
menghidupkan sapi jantanmu wahai anakku. Kau memberi hidup bagi kehidupan
lainnya. Dalam dirimu mengalir tentang bagaimana menghargai hidup. Hargai
dirimu sendiri, maka kau menjadi perantau yang sebenarnya. Soal pergi menyabit
saban hari itu hanyalah soal rutinitas. Soal bagaimana kau mengendalikan mata
sabitmu, itulah soal hidupmu.”
Bapak menggulung nipah ketiganya.
Melilitkan candu kopi gulungan nipah. Kemudian menghirupnya dengan amat pelan.
Tenang. Pipi Bapak merona merah. “Kau ingin mencobanya?” Misbah menggeleng.
Bapak meninggalkan Misbah. “Sekarang kalau kau ingin pergi menyabit rumput,
pergilah. Kalau kau ingin pergi merantau juga, merantaulah ke dalam dirimu
sendiri.” Bapak berlalu ke halaman, menuju gurun, menanggalkan tali pautan sapi
jantannya, mengiritnya ke tengah-tengah .
Misbah memegang sabitnya erat-erat.
Dia genggam rajutnya kuat-kuat. Dia masih bersila seperti sediakala. Nasihat
Bapak tentang rantau dalam diri hanya membuat dia berkerut kening. Buru-buru
dia berdiri dengan hati yang kacau, menarik sabit, pergi menyabit ke Ruangsudu.
*September 201502016
*Pertama kali diterbitkan Padang Ekspress, 30 Oktober 2016
*Alizar
Tanjung, lahir di
Karangsadah, 10 April 1987. Novelnya Anak-anak Karangsadah. Buku cerpennya Jemari yang Saling Genggam.




25%