![]() |
| Sumber: https://ngohuyanh.wordpress. |
Barangkali,
sudah waktunya aku berhenti menulis surat untukmu. Surat yang selalu aku tulis
bilamana aku merindukanmu dan tak tahu kemana harus mencarimu. Ayah, lihatlah
dandelion ini merangkul putrimu yang malang. Dandelion kesukaan kita menari
monoton di hadapanku, karena ia tahu kau tak lagi ada di sisiku. Ayah, kau tak
tahu bukan? Sejak hari itu, aku kehilangan semua
impianku. Semuanya menjadi puzzle yang berserakan. Ayah, anakmu sudah menjadi
seorang gadis remaja. Seorang gadis yang telah kehilangan banyak kebahagiaannya,
tidak seceria masa kecilnya yang dulu. Seorang gadis yang di setiap senja harinya menanti seseorang agar segera tiba dan memeluknya. Seperti dulu.
Seingatku,
sudah sepuluh tahun berlalu. Waktu itu usiaku tujuh tahun.
“Ayah…!”
Aku berlari dan menghambur kepelukan Ayah.
Ini adalah kebiasaanku, menunggu Ayah pulang bekerja lalu kami akan
pergi ke sebuah padang ilalang di sudut kota Jakarta. Letaknya tidak jauh dari
rumah. Biasanya, kami pergi hanya dengan berjalan kaki.
“Ayah
tahu nggak?” kataku sambil menggandeng tangan Ayah.
“Apa?”
“Zea
sayang Ayah,” aku menghentikan langkah dan menengadahkan kepala menatap Ayah.
Ayah
hanya tersenyum tipis, menatapku sejenak sambil membelai rambutku. Lalu kami
melanjutkan langkah. Tak pernah terbayangkan olehku, bahwa hari itu adalah hari
terakhirku menatap mata sayu Ayah yang penuh kasih.
Ayah
sangat meyukai dandelion. Bunga liar yang biasa tumbuh di antara ilalang. Tapi
terkadang aku juga menemukannya di tepi jalan. Ayahlah yang memperkenalkan
bunga putih itu padaku, lalu aku pun ikut menyukainya. Ada kesenangan
tersendiri ketika aku meniup dandelion-dandelion itu dan menari-nari bersama
mereka yang berterbangan.
“Zea,
sini duduk di sebelah Ayah,” Ayah memanggilku. Tangan kirinya
menepuk-nepuk bangku panjang yang sedang didudukinya.
“Yah,
dari tadi Zea perhatiin Ayah gelisah aja. Ayah kenapa?”
“Nggak
apa-apa kok, Sayang. Ayah cuma lagi capek aja,” Ayah
merangkulku erat.
“Ayah
kok nggak bilang dari tadi sih? Kan kita nggak usah ke sini kalau Ayah
capek,” aku merengut manja seraya melipat kedua tangan di dada.
“Yakin
nggak apa-apa? Kata Kak Gwen tiap hari kamu selalu nungguin Ayah
pulang kerja. Iya kan?” Ayah tertawa mengolokku. Aduh, kakak
perempuanku itu.
“Aduh Yah, Kak Gwen kan emang suka melebih-lebihkan keadaan. Emang kebetulan aja aku
lagi main di teras waktu Ayah pulang.”
“Kak
Figon juga bilang,” Ayah tersenyum-senyum melihat
ekspresiku yang manyun.
“Ih,
mereka berdua emang nggak asyik. Masa ngomongin aku diam-diam ke Ayah,” umpatku
pelan.
“Husshh,
itu tandanya mereka berdua sayang sama adek bungsu mereka.”
“Ibu
sama Ayah sama aja, Kak Figon sama Kak Gwen melulu yang di belain.”
Aku
pasang tampang pura-pura cemberut. Sebenarnya aku tahu, kalau Ayah
dan Ibu
lebih memanjakanku daripada dua kakakku yang lain. Mereka memang sering
menjahiliku, tetapi bukan berarti mereka membenciku. Mereka sangat menyayangiku. Ya, aku tahu kalau mereka berdua benar-benar sangat menyayangiku.
“Ayah,
di kehidupan yang akan datang mau jadi apa?”
“Dandelion.
Karena bisa terbang bebas tanpa ada pilihan. Kamu memangnya mau jadi apa?”
“Dandelion
juga. Biar bisa sama-sama Ayah terus.”
“Ada
saatnya kita berpisah,” Ayah mengusap rambutku lembut.
“Tapi,
Zea pengen seumur hidup sama Ayah terus.”
“Seumur
hidup adalah waktu yang sangat lama, Sayang.”
Senja
menyela percakapan kami. Seperti biasa, kamipun beranjak pulang. Ayah memaksaku
untuk naik ke punggungnya. Awalnya aku menolak. Tapi karena ayah
memaksa, akhirnya aku naik juga. Di perjalanan kami bernyanyi bersama. Rasanya
perjalanan pulang hari ini terasa lebih lama dari biasanya. Sebelum kami
benar-benar keluar dari padang ilalang itu, Ayah berhenti lama sekali dan
menoleh ke belakang. Kemudian, Ayah mengambil beberapa dandelion yang masih
melekat pada batangnya dan digenggamnya erat. Saat itu, aku hanya diam dan tidak
bertanya apa-apa.
Besoknya,
seperti biasa aku menunggu Ayah. Tapi, sosok jangkung itu tak kunjung datang.
Hingga akhirnya aku pun menyerah. Lalu, dimulailah mimpi burukku.
“Besok nggak usah nunggu Ayah lagi,” Kak Figon mencengkram kedua bahuku.
“Kenapa?”
Aku mulai menangis. Takut melihat Kak Figon yang tidak seperti biasanya.
“Dia
nggak akan datang lagi buat kita. Nggak akan pernah,” Kak Figon berteriak marah.
“Figon!” Kak
Gwen mendorong Kak Figon kemudian memelukku erat. Erat sekali.
Kak Figon kemudian pergi entah
kemana. Kak Gwen menangis dan aku pun ikut menangis bersamanya. Aku menangis
tanpa kendali. Membayangkan wajah Ayah, belaian Ayah,
senyum Ayah, serta suaranya. Bagaimana kalau Kak Figon benar? Berarti aku tidak akan pernah melihat Ayah
lagi. Lalu bagaimana dengan janji Ayah yang akan membawaku melihat
dandelion setiap hari?
Seminggu kemudian, aku, Ibu, Kak Gwen, dan Kak Figon pergi meninggalkan kota
Jakarta. Kata Kak Gwen, ke kampung halaman Ibu.
Memang tidak sebesar Jakarta, tetapi di sanalah kami akan menemukan
kedamaian yang utuh. Tentu saja tanpa Ayah.
Seminggu sebelum kami pergi, Ayah memang tak pernah datang. Aku
tidak tahu apa yang terjadi. Yang aku tahu, dalam shalat malamnya, Ibu
menangis dalam diam. Aku tidak akan bertanya besok. Suatu hari pasti akan
kutanyakan. Mungkin belum saatnya aku tahu.
Di sekolahku yang baru, aku berhasil
menjadi juara kelas. Tapi aku benar-benar tidak berbahagia. Ayah
tidak di sini melihatku. Sejak hari itu aku selalu menulis surat untuk Ayah
dan kualamatkan pada rumah kami yang lama. Banyak sekali surat yang aku kirim. Namun,
sebanyak itu juga tak ada balasan. Hanya itu satu-satunya yang bisa kulakukan untuk mengobati
rindu yang selalu hadir. Pria yang selalu kupuja-puja dan kujadikan idola,
membiarkanku tertinggal tanpa ada sepatahpun kata perpisahan. Meninggalkanku
dalam rasa penasaran dan dilema.
Aku kembali mengingat percakapanku dengan Ayah sehari
sebelum senja terakhir kami waktu itu. Setiap semester, yang datang ke sekolah
dan mengambil raporku adalah Ayah. Dan percakapan kami waktu itu seolah
menyiratkan pesan bahwa dia takkan pernah datang ke sekolah dan melakukan hal
yang selalu dia lakukan ketika musim penerimaan rapor tiba.
“Nggak kerasa, anak Ayah udah gedhe, ya?” Ayah mengusap
kepalaku lembut.
“Iya dong, Yah. Masa Zea kecil terus,” aku bergelayut manja
ke lengan Ayah.
“Semester depan nggak perlu Ayah lagi dong yang jemput
rapornya. Kan, udah gedhe.”
“Ih nggak mau! Harus Ayah yang jemput. Pokoknya sampai aku
sekolahnya kayak Kak Figon sama Kak Gwen, harus tetep Ayah yang jemput.”
Saat itu Ayah tak mengiyakan. Hanya tersenyum kemudian
menggelitikku sampai aku berteriak-teriak minta ampun. Tanpa aku sadari,
yang diucapkan Ayah hari itu adalah benar adanya. Semester-semester
selanjutnya, tak ada lagi Ayah yang akan datang dan mengambil raporku. Aku
harus terbiasa.
Aku tidak akan menceritakan semua
hari-hari yang aku lalui tanpamu. Aku tidak ingin kau tahu kalau aku sering
menangis dan merasa tersiksa. Ayah, apa yang sedang kau lakukan saat ini?
Apakah kau masih mengingatku? Mengingat kami? Ayah, kata Kak Gwen waktu itu Ayah
pergi dengan keluarga baru Ayah. Apakah itu benar, Yah? Ayah, apa kau tidak
merindukanku? Ayah, mungkin sudah saatnya aku berhenti menunggumu. Mungkin
sudah tiba masanya aku menulis kisahku sendiri. Terlepas dari semua bayangan
dan kenangan bersamamu. Ayah tidak perlu cemas. Aku akan baik-baik
saja tanpamu. Dan kudoakan semoga hari-harimu selalu bahagia.
Dandelion, dalam sepi hati,
aku memohon padamu. Terbang! Terbanglah sejauh mungkin! Kutitip pesan rindu
terakhirku untuk Ayah.




25%