![]() |
| Sumber: wallcoo.com |
Melukiskanmu dalam khayalan senja
Seketika kelam memintaku untuk berhenti
Berderik,
Tatkala batas imaji tlah terlampaui
Membingkai tentangmu dalam potret jingga,
kala itu
Seketika tangan-tangan angin
Menghentikan asa berkelana
Nelangsa, memang
Tatkala bibir cakrawala berbisik lembut
Pengecut, berhenti
Maju, belum tentu menang
Pilu kurasa,
Ombak berderu bagai nyanyian lara
Berdendang miris,
Tertuju untukmu wahai gadis
Yang merangkai kisah dalam lembar kertas tertulis.
Hai, izinkan aku bercerita tentangmu
wahai seseorang. Menceritakan kisahmu yang tentu saja ada aku di dalamnya. Aku
yang mencuri-curi waktu agar terlibat dalam keping demi keping kisah-kisahmu.
Itu semua kulakukan agar aku punya bukti untuk kuagungkan. Bahwasanya aku memang
pernah terselip dalam ceritamu. Agar aku meninggalkan kesan dalam waktu kita
yang terlalu singkat.
Ini hanya sebuah kisah monolog.
Entahlah. Tiba-tiba saja aku ingin membaginya. Tiba-tiba saja aku ingin
mengabadikannya. Ya. Kisah luka yang biasa. Tentangmu, tentangku, tentang
kita, dan tentang kata yang tak pernah ada. Mungkin waktu ingin bermain-main
hingga sekotak cerita kita terlupakan, atau terjatuh, atau mungkin saja
tertinggal. Ah, aku selalu menghibur diri. Mungkin kotak itu tak pernah ada.
Benar, kan?
September pertama ketika mata kita
bersirobok. Pagi itu ketika cahaya keemasan milik mentari menawarkan berjuta
rona kehangatan pada insan-insan sebagai salam penyemangat. Di lapangan basket
itu, kali pertama kutemukan dirimu. Matahari belum terbit seutuhnya, tapi
peluhmu sudah banyak terbuang. Kuambil kesimpulan, kau penyuka olahraga basket.
Pagi masih awal, langkah-langkah kaki anak manusia masih sedikit. Aih, aku
kepagian. Tapi andai aku terlambat sedikit saja, mungkin sudah lain lagi
ceritanya. Atau mungkin hatiku takkan pernah mencondongkan rasanya, padamu.
Aku terlalu asyik memperhatikan
kegesitanmu dengan bola berwarna orange
itu, sampai-sampai aku tidak sadar kau tak lagi berlari, tak lagi berusaha
memasukkan bola ke ring. Ya, kau sudah berhenti dan diam berdiri. Tentu saja
sambil memerhatikan seorang gadis aneh yang sedari tadi menyaksikan
pemainanmu. Ya Tuhan! Aku salah tingkah. Ini memalukan. Aku menunduk, mataku
terasa panas. Namun matamu yang teduh itu berusaha mencari-cari kegugupan gadis
bodoh ini. Ya, kau berhasil dan akhirnya aku memberanikan diri menatapmu dalam
diam. Hei, matamu terlalu teduh dan menenangkan. Diam-diam kusimpan potret mata
teduh itu. Agar suatu hari ketika aku merindukannya lagi, cukup kupejamkan mata
dan kuhampiri lagi tempat dimana potret itu dulunya kuletakkan. Kau tertawa
lepas setelahnya. Hei, apa yang kau tertawakan? Apakah tampangku seperti badut
dalam situasi itu? Atau aku seperti anak idiot yang kehilangan arah pulang?
Entahlah. Mana kutahu apa yang ada di pikiranmu. Kau hanya tertawa, kemudian
dengan santai meletakkan bola yang tadi kau mainkan ke tanganku. Tanpa protes, bola itu sudah berpindah. Dan sebelum kau berlari meninggalkan
lapangan, kau seenaknya mengacak-acak rambutku. Menyebalkan, tapi itu semakin
membuatku penasaran.
Ah, ini hanya sebuah kisah monoton. Kisah
yang sebenarnya terlalu berlebihan untuk dituliskan. Tapi sekali lagi, aku
hanya ingin membuatnya terasa nyata. Hanya ingin membiarkan kisah cinta
pertamaku tidak terlupakan.
Kau tahu, aku begitu menyukai langit
sore. Entahlah. Aku sangat mengagumi serat jingga milik senja. Dan aku
menjumpaimu lagi di antara jeda waktu yang selalu kufavoritkan. Sore itu
lagi-lagi aku menemukanmu. Tapi tidak dengan bola basketmu. Kau sedang duduk di
sebuah kursi panjang di taman sekolah. Hari ini aku keasyikan mengerjakan tugas
di perpustakaan hingga tak sadar waktu terus berjalan dan hari semakin senja. Aku
terlambat pulang. Tapi, andai aku pulang sedikit lebih cepat, sepersekian detik saja, mungkin
ceritanya akan lain lagi.
Aku sedang merangkai khayal seraya menyaksikan
pertunjukkan langit saat tiba-tiba mataku dengan cepat menangkap sosokmu. Kau
sedang asyik melukis. Alamak, ternyata kau tak hanya jago bermain basket.
Melukispun kau juga bisa. Pipiku merona merah. Oh, kenapa dengan hatiku? Sejak
peristiwa pagi itu aku tak pernah bisa melepaskan ingatanku dari sosok yang
kini ada di seberangku. Hei, kau selalu berhasil membuatku penasaran.
Sepertinya
aku harus berterima kasih kepada Tuan waktu. Karena dia selalu berhasil membuatku
terkejut dengan rancangannya. Seperti bertemu denganmu pada saat-saat tak
terduga. Waktu terus melaju dan tanpa kusadari kita semakin dekat. Seperti
ketika aku ikut berpartisipasi dalam keanggotaan Organisasi Siswa Intra Sekolah, atau ketika kita
terlibat dalam kepanitian. Agaknya kau selalu melibatkan diri dalam berbagai
kegiatan sekolah. Dan kupikir kau adalah pria serba bisa. Lihat apa yang tidak
kau bisa, kutanya? Olahraga bisa, seni kau pun bisa, akademik apalagi. Tak
jarang kau diikutsertakan dalam olimpiade-olimpiade, terutama Fisika. Yah, kau
pengagum Albert Einstein. Hei, kau semakin membuatku tak bisa melepaskan diri
dari pesonamu.
Waktu
terus berjalan dengan semestinya. Kini adalah September ketiga sejak kita
bertemu saat itu. Lalu kau pun lulus dan aku baru menduduki tingkat akhir masa
sekolah. Hei, kita berpisah dan kisah cintaku terlalu menyedihkan ternyata. Kau
sama sekali tak pernah tahu tentang rahasia hati yang selalu kusembunyikan
rapat-rapat. Hei, selamat tinggal dan selamat berpisah. Aku memang terlalu
pengecut untuk mengaku. Ya, begitulah aku. Hari terakhir kita bertemu kala itu,
dengan keberanian yang sangat, kuhadiahkan sebuah senyum bermakna untukmu.
Syukurlah kau membalasnya. Dan di bawah langit sore nan indah, di hamparan
magenta yang berbahagia, kusaksikan langkahmu meninggalkan sekolah kita. Tempat
yang menyimpan banyak cerita tentangmu. Tak kulepas pandanganku hingga kau
menghilang di ujung jalan. Sekali lagi, selamat berpisah.
Kisah
klasik ini akan berakhir sebentar lagi. Entahlah. Entah kisah ini berakhir
bahagia atau malah menyedihkan. Ketika jam istirahat aku melewati ruang kesenian, aku tahu kau sering melukis di sana. Aku memasukinya dan aku menemukan
sebuah kotak kayu yang terukir namamu di atasnya. Hei, bolehkah aku
membukanya? Kotak ini membuatku penasaran, sama seperti pemiliknya. Hingga
kuputuskan untuk membukanya saja. Tak apa, kan? Aku hanya ingin melihat barang
apa yang kau simpan di dalamnya dan kau biarkan tertinggal di ruangan yang sepi
ini. Aku terdiam. Begitu banyak sketsa wajah dan lukisan seorang gadis di
dalamnya. Seorang gadis yang kau panggil “Lana”. Ya, itulah yang tertulis di
sana. Hei, itu aku. Itu aku. Aku menahan tangis dan berlari pulang. Kita
sama-sama ingin melupakan, sama-sama ingin meninggalkan sebuket kisah cinta
tanpa suara, di sini, di sekolah ini. Dan yang terpenting, kita sama-sama tak
menyuarakan rasa yang bersemayam di hati ini. Sama-sama mencinta tapi lebih
memilih mematikan cinta itu sendiri. Hei, apa yang harus kulakukan?
Ini
paragraf terakhir, aku janji. Sedikit lagi akan usai. Aku memang belum
merencakan apa-apa untuk memperjuangkan cinta dalam diamku. Cinta pertama yang
selalu kusimpan rapi hingga hari ini. Namun tampaknya, Tuhan memang tak
mengizinkanku berjumpa denganmu lagi. Sore itu, pada potret waktu yang kusukai,
alam membawamu pergi. Gempa besar 30 September kala itu meluluhlantakkan hotel
dimana kau sedang mengadakan pelatihan. Hei, aku hanya terdiam untuk waktu yang
lama. Mungkin aku takkan semenyesal ini, jika nama itu tak pernah kutemukan. “Lana”.
Ya, nama itu hanya menambah goresan luka di dalam beribu penyesalan. Aku bisa
menyebut kisahku berakhir bahagia karena cinta yang tak pernah kusuarakan tidak
bertepuk sebelah tangan. Namun tetap saja, akhir pastinya adalah kisah yang
menyedihkan. Karena memulai dengan sebuah kepengecutan, semuanya berakhir
penuh kesia-siaan. Andaikan..... Ah, aku tak mau berandai-andai. Hei, seseorang.
Selamat jalan. Aku tahu kau takkan pernah membaca tulisan ini. Tapi, biarlah
orang-orang itu membacanya dan memperjuangkan cinta mereka. Semoga saja kitalah
yang menjadi penutup kisah luka ini.~




25%