Winna Efendi, penulis yang tengah naik
daun ini mengaku mulai menulis sejak kecil. Winna tercatat aktif di dunia
kepenulisan sejak tahun 2007, saat bergabung dengan komunitas Kemudian.com. Di
sana, Winna mulai berbagi cerita pendek dan akhirnya menyelesaikan naskah novel
pertamanya: Kenangan Abu-Abu, yang diterbitkan dengan judul Remember When.
Menurut Winna, begitu banyak pengalaman dan pahit manis yang ia
dapatkan sejak awal menulis dan juga setelah buku-bukunya terbit. “Ada kritik
saran dan berbagai aspek lain yang membuat saya belajar banyak. Misalnya,
awalnya saya sembarang mengirimkan naskah yang sudah selesai tanpa dilirik
lagi. Sekarang saya menyadari pentingnya self-editing
untuk naskah sendiri, yakni memaksimalkan potensi naskah sebelum dikirimkan
ke penerbit,” tuturnya
Hampir semua penulis mengalami situasi yang dinamakan writer’s block. Pun Winna mengaku pernah
mengalami kondisi yang sama.“Saat
mengalami writer’s block, biasanya
saya kembali mendalami riset dan brainstorming
ide. Lewat eksplorasi setting, karakter, atau plot, biasanya ide-ide baru
bisa muncul. Jika masih belum ada ide, saya akan mengambil break sementara, lalu melanjutkan naskah kembali.”
Winna juga menyatakan bahwa ia
jarang sekali bisa menemukan ide yang benar-benar orisinil. Maka, triknya adalah mendaur ulang ide dengan
menambahkan bumbu-bumbu yang unik dari segi karakter atau plot twist atau setting,
misalnya, dan menjauhkannya dari kesan klise yang sudah terlalu sering dipakai.
Selain itu, Winna percaya pada konsep ‘writing
from the heart’. Ia menambahkan, “Perasaan itu yang akhirnya tersampaikan
kepada pembaca, dan membuat pembaca bisa relate
dengan cerita yang kita tulis.”
Sebuah naskah yang baik, dari kacamata Winna, adalah naskah yang memiliki keseimbangan elemen. Baik dari karakter yang menarik dan tak membosankan, dialog yang wajar dan realistis, setting yang tidak berlebihan juga tidak datar, alur yang pas, juga konflik dan plot yang padat. Menulis adalah proses. “Tahap pertama bagi saya adalah mengeset target yang realistis, misal 3-6 bulan untuk satu naskah. Meski demikian, target adalah sesuatu yang subjektif dan berbeda bagi setiap penulis,” ungkap Winna.
Sebuah naskah yang baik, dari kacamata Winna, adalah naskah yang memiliki keseimbangan elemen. Baik dari karakter yang menarik dan tak membosankan, dialog yang wajar dan realistis, setting yang tidak berlebihan juga tidak datar, alur yang pas, juga konflik dan plot yang padat. Menulis adalah proses. “Tahap pertama bagi saya adalah mengeset target yang realistis, misal 3-6 bulan untuk satu naskah. Meski demikian, target adalah sesuatu yang subjektif dan berbeda bagi setiap penulis,” ungkap Winna.
Bagi Winna sendiri, hambatan terbesarnya ketika menulis adalah
mengenai waktu yang kini amat terbatas seiring dengan kesibukannya sebagai
seorang ibu. Winna mencoba mengatasi
kendala waktu dengan mengeset target menulis yang realistis dan menulis setiap
kali memiliki kesempatan.
“Ketika proyek menulis baru dimulai, saya berupaya
untuk menulis setiap hari sampai naskah selesai. Satu-satunya cara yang saya
pakai adalah dengan menerapkan kedisiplinan dan memenuhi tekad untuk
menyelesaikannya. Dengan mempertahankan kedisiplinan menulis, pada akhirnya
naskah akan rampung.”
Ia menambahkan, “Prosedur penerbitan berbeda untuk
setiap penerbit, maka ada baiknya kita melakukan riset terlebih dahulu dengan
menghubungi redaksi atau mengecek syarat dari mereka di website penerbit. Biasanya karya perlu di-print dalam kertas A4 dengan font Times New Roman 12 spasi 1, lalu
sertakan sinopsis singkat mengenai cerita dan kirimkan dalam amplop tertutup ke
Bagian Fiksi di alamat penerbit. Kita bisa menunggu sekitar 6 bulan untuk
mendapatkan respons dari penerbit.” Hmm, barangkali bisa dicoba untuk para penulis muda yang
kadang bingung bagaimana mengirimkan naskahnya ke penerbit.
Winna berpesan agar para penulis pemula yang sedang
dalam tahap belajar tetap menulis dan tidak mudah menyerah. “Terus gali
kemampuan menulis lewat berlatih; dengan banyak menulis, kita dapat menemukan style dan ciri khas tersendiri yang
membedakan kita dari penulis lain. Selain itu, perbanyak membaca, karena
darinya kita bisa mempelajari ciri khas penulis lain dan mengenali trend, juga apa yang membuat sebuah
karya sukses dan disukai pembaca. Mengutip quotes
dari Arthur Miller, ‘Everything we
are is at every moment alive in us’.”
Setiap tulisan Winna terinspirasi dari keseharian
yang ada. “Saya senang menulis berdasarkan sesuatu yang riil yang sering
dialami pada kehidupan nyata, namun bukan dari kisah pribadi.” Ketika
ditanya soal novel yang paling ia sukai dari sekian banyak novel yang telah ia
terbitkan, begini jawaban Winna: “Masing-masing memiliki kesan tersendiri saat
menulis, tapi saya sangat menyukai kejujuran dalam naskah Unforgettable serta
Melbourne: Rewind yang terasa dekat di hati.”
Sekedar info bagi para pembaca, Winna Efendi baru
saja menyelesaikan sebuah naskah yang saat ini sedang dibaca oleh editor. “Naskah saya yang sebelumnya sedang dalam tahap
pembuatan cover dan akan terbit di
bulan Januari 2017.” Yeey!!! Selamat menunggu karya
terbaru Winna! :)



25%