Oleh: Fitria Osnela
![]() |
| Sumber: Jogja News |
Siapakah aku yang lain? Bukankah aku
adalah aku? Hanya aku. Tapi saat ini, aku berusaha membagi diriku menjadi dua
bagian yang terpisah lorong waktu. Masa lalu dan saat ini. Aku tak ingin dulu
bicara tentang masa depan. Sebab masa depan adalah hitam yang tak mungkin aku
masuki kecuali dengan ‘perandaian’ dan ‘impian’. Impian masa depanku biarlah
kulekatkan saja pada kekuatan tekad dan do’a-do’a. Biar Tuhan saja yang kelak memberi warna.
Sekali lagi, ini hanya tentang aku dan
aku yang lain. Pada perjalanannya kami mungkin akan bercerita sebagai ‘aku’ dan
‘kamu’. Baiklah. Aku akan mulai menceritakan beberapa pengakuan tentang kamu.
Pengakuan berbahaya, sebab beberapa diantaranya barangkali adalah hal-hal yang bisa
membunuhmu. Pengakuan tentang kamu yang
akhir-akhir ini membuatku kembali memeluk kenangan. Aih. Kenangan itu: ada yang
ingin kubiarkan lepas, ada yang tak ingin kulepas, ada yang membelenggu dan tak
bisa lepas. Pada akhirnya, setiap jenis kenangan itu tak ada yang benar-benar
nyata yang bisa aku sentuh. Meski demikian, aku akan coba mengambil apa-apa
yang akan membuatku belajar untuk menjadi lebih baik, menjadi diriku sendiri.
Pengakuanku
yang pertama adalah tentang Ragu. Ragu
barangkali adalah sesuatu yang tak berbangsa. Itu sebab, ada petuah yang
mengatakan bahwa jika kau ragu, tinggalkan. Tak perlu berkawan dengan ragu. Ragu
membuatmu sulit mengambil keputusan. Dan itu sungguh tidak asyik. Tidak asyik
itu rasanya seperti kopi susu yang terlalu manis. Enek. Mau ke sana khawatir,
mau ke situ cemas, mau tetap di sini
gelisah. Aku mengambil seperangkat kenangan tentang kamu yang dikuasai ragu. Sungguh,
kamu tidak teguh pendirian sekali. Kamu
mengkhawatirkan banyak hal, tentang apa-apa yang belum terjadi. Kamu
mencemaskan sesuatu yang tidak ada. Kamu gelisah pada kehampaan. Kamu sibuk
memikirkan apa-apa yang kamu
khawatirkan, apa-apa yang kamu cemaskan, sehingga kamu menjadi gelisah. Kamu
takut pada kekhawatiran dan kecemasanmu sendiri. Ah, kamu begitu
menyedihkan. Tahukah kamu, Ini adalah
hal pertama yang membunuhmu. Sungguh, aku tak ingin menutup-nutupinya darimu. Kamu
harus tahu yang sebenarnya. Kamu tahu, kebenaran seberapapun menyakitkannya
tetaplah kebenaran. Tak boleh kamu menyangkalnya.
Rasa bersalah. Rasa bersalah itu serupa
kuku yang terus tumbuh. Jika sudah panjang, potonglah sampai batas nyaman yang
kamu senangi. Jika melewati batas, dia hanya akan menyakiti kamu. Kamu akan
kesulitan menjalankan aktivitas dengan tangan atau kakimu. Coba bayangkan,
bagaimana jika kamu punya kuku kaki atau kuku tangan yang panjangnya sekitar 30
cm. Bisakah kamu memakai sepatu dengan nyaman? Atau makan tanpa menggunakan
sendok dengan begitu lahap?
Begitupun halnya rasa bersalah yang
berlebihan. Bukankah segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik? Hey, aku
menatapi kamu pada suatu ketika dalam lorong waktu itu. Kamu, dengan perasaan
merasa bersalahmu yang terlalu berlebihan. Kamu yang seorang pemikir, pemikir yang hanya memikirkan tentang dirimu. Tentang
apa-apa yang telah kamu lakukan pada oranglain. Tentang apa-apa yang telah
membuat oranglain terluka tersebab akan dirimu. Dan kamu menyesalinya. Dan kamu mengevaluasi
dirimu dengan begitu keras seolah-olah kamu telah merenggut suatu hal yang
sangat berharga dari oranglain. Dan kamu mengingat kembali tentang kesalahanmu.
Berkali-kali. Dan pada akhirnya itu hanya menyakiti dirimu sendiri.
Kamu lupa, bahwa orang-orang tidak melulu berpikir dengan cara yang sama. Sudahlah,
sesuatu yang berlebihan itu sungguh tidak baik. Tetaplah berada pada batas
normal. Jika kamu bersalah pada oranglain, akui. Mintalah maaf. Jadikan
pembelajaran. Jangan jadikan pembenaran sebagai alasan. Jika oranglain tidak
mau memaafkanmu, berhentilah memohon. Itu bukan lagi urusanmu. Biarkan Tuhan
saja yang mengambil sisanya. Oke?
Hmm... Kamu tentu tidak lupa bahwa pengakuan itu
hanyalah dua dari beberapa hal yang bisa membunuhmu. Tunggu saja, besok atau
lusa aku akan membuat pengakuan-pengakuan lainnya. (Rumah, 30/11.2016)




25%