oleh Fitria Osnela
![]() |
| sumber gambar: rypos.blogspot.co.id |
Lubang
di dada Ibu semakin besar dan dalam.
Keira melihat dengan mata kepalanya
sendiri, bagaimana daging pada dada Ibu berubah menjadi lunak lalu meluruh. Menyisakan sebuah lubang. Dan ada mata air di dalam lubang itu. Keira ingin
selalu melihat kedalaman lubang dada Ibu. Bagaimana mungkin seorang manusia bisa hidup dengan dada
yang berlubang?
Tapi, Ibu sudah hidup dengan dada
yang berlubang sejak Dua tahun lalu. Sejak itu, Ibu menjadi Ibu yang disukai
oleh Keira. Ibu menjadi sering di rumah dan menghabiskan banyak waktu
bersamanya. Ibu bilang, ia tak pernah suka dengan dada berlubang miliknya. Tapi
bagi Keira itu merupakan sesuatu yang menakjubkan. Berkali-kali Keira mengatakan
bahwa tidak masalah baginya jika dada Ibu berlubang. Ia sungguh sangat menyukai dada Ibu yang sekarang. Sebab dengan dada Ibu yang seperti itu, Keira menjadi lebih
dekat dengan Ibu.
Ibu selalu berusaha agar mata air di
dadanya itu berhenti mengalir. Berbagai macam cara ia lakukan. Beragam kapsul
dan pil telah ia telan. Tapi air itu terus mengalir. Tak pernah berhenti. Daging
di dada Ibu terus luruh. Suatu ketika Keira mendapati Ibu menangis diam-diam.
Lalu semakin sering. Dan Keira berpikir, mungkin sebaiknya dada Ibu tak pernah
berlubang. Ia mengutuk dirinya karena telah menyukai mata air di dada Ibu. Ia ingin Ibu berhenti menangis.
“Apakah itu sakit?” untuk kesekian kalinya Keira bertanya.
“Tidak sesakit jika Ayahmu di sini
dan melihat ini semua, Keira.”
“Kenapa?”
“Suatu
hari nanti kau akan mengerti tanpa perlu bertanya kenapa.”
Tiga tahun yang lalu, ia pernah
bertanya hal serupa. Dan ia menatap mata
Ibu dalam-dalam mencari kegetiran, rasa
takut, penyesalan atau apapun di mata Ibu yang akan menjadi alasan bagi Keira merubah
keputusan ibu untuk tidak menceraikan ayah. Tapi, keputusan Ibu tidak bisa lagi
di cegah. Meski Keira mogok makan dan enggan melakukan aktivitas apapun selama 3 hari, tetap saja Ibu tidak merubah keputusannya. Ayah
dan Ibu bercerai. Kemudian Keira melihat Ibu menjadi semakin sibuk dan jarang
ia temui di rumah. Bahkan hingga akhir pekan. Sementara Ayah,
tidak pernah lagi muncul. Dan Keira benar-benar merasa frustasi. Hingga
kemudian, ia mendapati Ibu kembali ke rumah dan berubah menjadi Ibu yang ia
suka.
“Inikah maksudmu?”
Ibu tersenyum.
Keira memeluk Ibu. Airmatanya jatuh.
Ia kemudian tahu, alasan apa yang membuat Ibu memilih untuk menceraikan Ayah. Lubang
di dada Ibu adalah jawabannya. Keira tidak habis mengerti bagaimana bisa ada
orang yang menyembunyikan rasa sakitnya dengan sangat kejam dari seseorang yang
ia cintai. Tapi Ibu begitu.
“Suatu hari nanti kau akan mengerti
bahwa kau tidak akan pernah merasa bahagia jika seseorang yang kau cintai
merasa sakit dan terbebani olehmu.”
Keira semakin erat memeluk Ibu. Tapi
Ibu melepaskan pelukan Keira. Mungkin pelukan Keira mengenai bagian dada Ibu
yang sakit.
“Untuk kesekian kalinya, bolehkah
aku melihat dadamu lagi Bu?”
Ibu mengangguk. Keira memekik tertahan. Sebelah
Payudara Ibu sudah tidak ada lagi. Berganti dengan sebuah lubang yang menganga.
Keira tersadar dari imajinasi konyolnya
selama ini. Imajinasi yang tidak lebih dari ketidak inginannya untuk
mempercayai kenyataan, bahwa lubang dan mata air di dada Ibu sesungguhnya
adalah penyakit yang akan membunuh Ibu secara perlahan dan pasti.
“Keira, kematian bukanlah sesuatu
yang perlu untuk ditangisi. Tapi menangislah jika kau tak sekalipun
mengingat kematian yang mungkin tiba-tiba menghampirimu.”
Keira tersedu. Ia ingin daging di
dada Ibu kembali tumbuh. Ia ingin mata air di dada Ibu berhenti mengalir.
“Bisakah kau berbagi rasa sakit itu denganku, Bu?”
“Tidak. Ibu tak perlu berbagi denganmu, Keira.”
Keira
begitu sakit melihat penderitaan yang Ibu rasakan. Disaat seperti ini, Keira
ingin Ayah tahu penderitaan macam apa
yang tengah diderita Ibu.
***
Keira
terbangun. Semalaman ia menangis di samping Ibu dan tertidur. Hari masih terlalu pagi. Ia enggan
membangunkan Ibu. Ia kemudian memeluk Ibu dengan diam yang dalam. Ibu tetap terlelap.
Keira tak kunjung ingin membangunkan Ibu.
Ia ingin memeluk Ibu lebih lama lagi. Tapi, ia yakin satu daun di Lauh Mahfuz telah gugur pagi itu. Airmatanya jatuh ke tenggorokan. Deras yang
asin. (Rumah, 27/11.2016)




25%