![]() |
| Sumber: wallcoo.com |
Adalah hal yang
lumrah ketika kita tertarik pada seseorang. Bukankah itu tanpa direncanakan?
Ia terjadi begitu saja. Bahkan sebelumnya pun kita tak pernah tahu bahwa
esok harinya kita akan jatuh hati pada orang itu. Kadang kita juga berpikir,
kenapa harus “dia”? Ya, begitulah
hakikatnya cinta bekerja. Tiba-tiba saja, hari ini kita tersadar bahwa orang
itu telah masuk dan menempati celah-celah kecil dihati kita. Seperti dirinya yang
tanpa kusadari, telah masuk terlalu jauh. Ya, jauh.
Ingin kutuntun
kembali agar dia berbalik arah dan kembali mengosongkan celah yang telah terisi olehnya. Namun sayangnya, aku tak pernah benar-benar tau dimana dia ada dan bagian mana dari hati ini yang telah ditempatinya. Entahlah. Entah dia yang benar-benar
susah untuk kusuruh pergi, atau aku sendiri yang benar-benar tidak ingin
membiarkan dia untuk pergi.
Mata itu, entah
kenapa aku selalu suka mata itu. Dia, si pemilik mata penuh rahasia. Dan tiap
kali aku menatap punggung itu, ingin kuteriakkan dengan kencang: menolehlah!
Ada aku yang melihatmu dari sudut ini. Namun sayangnya, sampai hari ini itu
semua tak pernah kulakukan.
Kadang terlalu
bodoh jika berpikir dia bisa tahu tentang rahasia hati ini. Terlalu konyol jika
berpikir tiap kali aku menatapnya debar aneh ini tersalurkan. Bodoh dan menyesakkan.
Tapi ya begitulah. Semua orang punya cara dengan perasaannya. Maju dan katakan, atau diam dan
tetap di tempat. Aku memilih yang kedua. Diam dan tetap di tempat. Aku hanya
perlu mengandalkan takdir bekerja, karna takdir selalu bekerja dengan benar.
Aku tersenyum kecil, membiarkannya berlalu seperti biasa dan menggantungkan harapan diam-diam agar sepasang mata misterius itu memang diciptakan untuk bebas kutatap. Semoga, nanti.~




25%