Pujian, hinaan, umpatan, pengharapan,
silih berganti berputar di ufuk pikiran yang kian lama kian menyalahkan diri.
Berharap tidak terlahir dengan kesempurnaan di mata kaum adam, berharap
terlahir biasa hingga dicintai kaum hawa.
Di hati perempuan, satu pujian tidaklah
benteng dari seribu hujatan. Tiada arti berlimpah cinta jika hati sengsara
tiada berkawan. Wajah ayu yang membawa petaka, prestasi yang membawa lara.
Bukannya bangga malah murka, malah ingin menyingkirkan.
Tersisih, terpuruk di sudut bayang para
pemilik suara yang berbisa. Berbisik, berteriak, menyindir dan menfitnah. Lelah
ikuti arus yang kerap kali memarkan jiwa yang mencoba mengerti, hingga berakhir
sepi, menangis sendiri.
-Di Depan Kaca Aku Berbisik, ADORADA-




25%